Desain Rumah Bambu
Bambu adalah bahan bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. di Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak"..
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
dunia ini bagai selembar kertas putih, memerlukan warna-warni yang indah.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Kamis, 14 Juli 2011
Herman Thomas Karsten
Rabu, 29 Juni 2011
Menara Masjid: Adopsi dari Tradisi Byzantium
Selasa, 21 Juni 2011
Candi Prambanan
Senin, 21 Maret 2011
Arsitektur Tradisional Bali
- Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga
- Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala
- Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu
- Konsep proporsi dan skala manusia
- Konsep court, Open air
- Konsep kejujuran bahan bangunan
- Nista (bawah, kotor, kaki),
- Madya (tengah, netral, badan) dan
- Utama (atas, murni, kepala)
- Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir)
- Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari)
- Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut)
Rabu, 16 Maret 2011
Sejarah Forbidden City di China
![]() |
Konsep disini adalah konsep yin-yang dan feng shui. Kesimbangan di dunia ini selalu tercermin dalam pola arsitektur bangunan-bangunan ini.
Di setiap bangunan selalu ada patung singa, entah dari marbel atau dari batu. Ini bukan simbol kerajaan, tapi singa dipercaya sebagai penghalau energy negatif masuk.
Ada satu bagian di salah satu bangunan yang ada di Forbidden City yang berdindingkan tegel porselein berwarna hijau jade. Cantik.
Areal pemakaman ini terletak di utara Beijing. Hampir mendekati Tembok Cina. Kompleks makam kaisar ini menurut feng shui adalah tempat yang paling ideal. Karena sisi Utara adalah gunung dan di sisi Selatan adalah sungai.
Sabtu, 13 November 2010
Monumen Nasional

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.
Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas.
1. Ukuran dan Isi Monas
Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer.
2. Lidah Api
Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.
3. Pelataran Puncak
Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.
4. Pelataran Bawah
Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.
5. Museum Sejarah Perjuangan Nasional
Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.
Untuk dapat masuk ke bangunan Monas, Anda dapat melalui pintu masuk di sekitar patung Pangeran Diponegoro. Lalu Anda akan melalui lorong bawah tanah untuk masuk ke Monas. Anda pun dapat melalui pintu masuk di pelataran Monas bagian utara. Jam buka Monas adalah jam 9.00 pagi hingga jam 16.00 sore.
Monas dapat menjadi salah satu pilihan Anda untuk berwisata bersama keluarga dan tempat mendidik anak-anak untuk lebih mengenal sejarah Indonesia. Anda pun dapat menikmati udara segar dari rindangnya pepohonan di Monas. Dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan Taman Monas agar tetap indah untuk dinikmati siapapun.
Rabu, 10 November 2010
Borobudur
Candi Borobudur merupakan warisan budaya kita yang sempat menjadi salah satu keajaiban dunia. Saya sendiri baru 1 kali berkunjung ke candi ini, kalo dilihat melaui photo-photo atau televisi candi ini terlihat sangat besar, tapi kalo dilihat langsung ternayata tidak sebesar kayak di tv-tv. Tetapi saya tetap mengagumi candi ini, baik dari nilai-nilai estetika yang ditampilkan dan latar belakang sejarah yang melekat bersama candi ini.
Keberadaan candi Borobudur ditemukan oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1814. Saat itu Belanda dan Inggris berperang dan sempat wilayah nusantara dipimpin oleh Inggris. Saat Raffles berkunjung ke Semarang, ia mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief. Bersama dengan H.C. Cornelius, seorang Belanda, disertai 200 orang dimulailah pembersihan situs berbentuk bukit tersebut.
Tahun 1835 dan seterusnya mulailah tampak wujud sebenarnya bagian atas candi, diteruskan bertahun-tahun hingga dianggap selesai pada tahun 1850-an. Dan pada tahun 1873 seorang artis Belanda, F.C. Wilsen, menerbitkan monograf pertama relief-relief candi Borobudur, hingga kemudian Isidore van Kinsbergen memotret candi tersebut. Namun saat itu status dan struktur candi Borobudur masih diyakini tak stabil.
Awal abad ke-20 dilakukan restorasi besar-besaran oleh Theodoor van Erp, yang bertugas di Magelang, sekaligus tergabung ke dalam Borobudur Commission. Erp melakukan metoda yang disebut anastylosis, yaitu suatu metoda untuk merekonstruksi bangunan tua bersejarah dengan perhitungan, simulasi, disassembly dan disusun kembali dengan bantuan batu, plester, semen untuk menahan struktur dan bagian yang telah hilang. Namun upaya ini kurang sukses karena kurangnya dana, sehingga Erp hanya fokus pada restorasi struktur dan drainase. [Foto koleksi van Erp, dari Project Jigsaw, ANU]
Tahun 1973 hingga 1984 UNESCO ikut membantu dalam upaya restorasi dan pendanaan candi ini. Dibongkar lebih lengkap, struktur tanah dan bukit diperkuat, serta kembali batu-batu disusun hingga tampak kemegahannya hingga sekarang. UNESCO pun memasukkannya ke dalam daftar World Heritage Site atau Warisan Dunia UNESCO.
21 Januari 1985 beberapa stupa hancur karena serangan ledakan bom. Beberapa waktu lalu pembangunan di sekeliling candi juga menjadi isu kontroversial. Terakhir, kejadian gempa di Yogyakarta tidak membuat kerusakan struktur candi ini.
Dongeng setempat mengatakan Gunadharma memimpin pembuatan candi ini di jaman Syailendra di akhir abad ke-8. Menurut seorang akademisi Belanda, nama Gunadharma adalah murni bahasa Sansekerta yang berarti dongeng rakyat tersebut bersumber dari fakta sejarah, sebab dongeng rakyat yang semata-mata dongeng hanya menampilkan figur nama lokal/setempat.
According to local legend, this is the body of Borobudur’s legendary architect Gunadharma, who has elected to remain in the area in order to keep watch over his creation. Since Gunadharma is a pure Sanskrit name, the Dutch scholar N.J. Krom thought that this local legend might actually be based on some historical figure. Javanese folk tales typically present figures that bear the names of local, rather than Indian characters.
– [Gunadharma's Ruler]
Candi Borobudur dibangun sebagai sebuah candi besar, bukan sebuah komplek, yang jika dilihat tegak lurus dari atas berbentuk sebuah mandala besar di atas tanah. Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar.
Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan, tidak ada penggunaan mortar atau bahan pelekat lainnya. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3.
Gunadharma pun memikirkan sistem drainase, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.
Menurut para ilmuwan pembangunan candi ini memakan waktu 50 tahun. Wajar jika legenda mengatakan Gunadharma sebagai arsiteknya meminta tetap berada di candi tersebut, moksaSamaratungga dan putrinya, Pramudawardhani, dan bagi penerus wangsa Syailendra saat itu. untuk menjaga kelestarian sebuah karya monumental, baik bagi Gunadharma sendiri, bagi
Yang masih menjadi misteri adalah kepastian mengapa wilayah candi Borobudur adalah wilayah yang ditinggalkan. Saat Raffles menemukan candi ini, wilayah tersebut adalah bukan wilayah hunian, sebuah hal yang janggal ketika sebuah tempat peribadatan besar umat Budha tapi tidak ada penduduknya. Bahkan Majapahit atau pun Sunda Galuh tidak mencatat eksistensi candi ini.
Para ilmuwan berkesimpulan Borobudur hilang karena tertimbun ledakan Gunung Merapi di awal abad ke-11, diiringi dengan pengungsian besar-besaran penduduk, menjadi wilayah desertir. Namun pendapat ini pun masih belum bisa dipastikan oleh para ilmuwan dan akademisi.
Rabu, 06 Oktober 2010
Art Deco
Dunia mengalami pembaruan setelah dihancurkan oleh Perang Dunia I. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, bidang arsitektur pun mulai berubah dan mencari gaya baru. Awal abad ke-20 merupakan masa yang istimewa bagi masyarakat dunia Barat. Pada abad yang dikenal juga sebagai Abad Modern atau Abad Mesin ini, industrialisasi dan pembaruan merebak di berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi setelah Perang Dunia I usai, semangat untuk membangun “dunia baru” dari kehancuran yang diakibatkan oleh perang dilakukan secara intensif.
Bidang arsitektur pun tidak luput dari pembaruan. Para arsitek di berbagai negara Eropa mencoba memaknai abad ini dengan karya yang berbeda dari masa lalu. Ditunjang dengan kemajuan teknologi dan industri, mereka mengeksplorasi berbagai gaya baru dengan tidak lagi mengacu kepada bentuk yang berakar pada bentuk klasik Yunani–Romawi yang telah berabad-abad menjadi orientasi dalam berkreasi.
Awal Istilah Art Deco
Adalah Perancis, salah satu negara yang menggalang pembaharuan di bidang arsitektur dan seni. Gerakan pencarian gaya baru yang terpencar di berbagai negara Eropa, dihimpun dalam sebuah pameran berskala internasional. Di kota Paris diselenggarakanlah Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriels et Modernes atau International Exhibition of Industrial and Modern Decorative Arts selama 6 bulan. Pameran diikuti oleh beberapa negara Eropa dan menampilkan karya seni, dan arsitektur modern yang mencerminkan kemajuan industri.
Pada tahun-tahun berikutnya, ternyata pameran ini berpengaruh pada perkembangan dunia arsitektur, dan seni. Tidak saja di Eropa, tetapi juga di beberapa wilayah dunia lainnya, seperti Amerika, Australia, New Zealand, dan Asia termasuk di Indonesia ketika jaman pemerintahan Kolonial Belanda. Dari nama pameran di kota Paris pada tahun 1925 inilah, sejarahwan Bevis Hillier melahirkan istilah Art Deco di tahun 1968 dalam menggambarkan modern design pada awal abal 20 yang pengaruhnya “mendunia” itu. Sebelumnya, isitlah ini dikenal dengan sebutan Modernistic, Modern, atau Gaya Moderne.
Art Deco vs Art Nouveau
Untuk menunjuk pengaruh tunggal dalam Arsitektur Art Deco sungguhlah sulit. Banyak faktor yang mempengaruhinya sepanjang masa “hidup”-nya, antara Perang Dunia I (1914-18) dan Perang Dunia II (1939-1945). Beberapa pendapat terlontar terhadap dinamika arsitektur Art Deco ini.
Ada yang berpendapat Art Deco merupakan gaya yang eklektik. Gaya yang mencampurkan berbagai langgam dalam satu bangunan. Ada juga pendapat yang saling bertentangan, yaitu Art Deco merupakan kelanjutan dari Art Nouveau, dan hadir sebagai reaksi terhadap Art Nouveau. Art Nouveau adalah sebuah gaya yang mengabstraksikan bentuk tumbuhan dalam bentuk plastis dalam upaya melepaskan diri dari pengaruh bentuk klasik. Namun ada juga yang mengemukakan bahwa terdapat kesamaan antara Art Nouveau dan Art Deco, yaitu keduanya menganggap dekorasi merupakan bagian dari arsitektur.
Dari beberapa pendapat ini, terlihat hal yang menarik sebagai gambaran umum dari Art Deco, yaitu eklektik dan dekoratif, seperti tercermin pada Art Deco tahun 1920-an. Periode ini dikenal dengan sebutan periode decorated. Akan tetapi, pada tahun 1930-an Art Deco menampilkan ekspresi bentuk baru atau memasuki periode streamline. Namun hal ini bukan berarti pada tahun 1930-an seluruh Art Deco berbentuk streamline. Ekspresi bangunan seperti tahun 1920-an masih dapat ditemui.
Art Deco Tahun 1920-an
Art Deco tahun 1920-an ditandai dengan bentuk bergaris, bersudut tegas, zigzag, atau berundak. Sedangkan ornamen geometris yang menghiasi bangunan terinspirasi oleh mesin- mesin industri yang serba presisi dan ancient art dari beberapa kebudayaan, seperti kebudayaan Aztek, Maya, India, Afrika, dan Mesir. Kehadiran ancient art dalam Art Deco dipacu oleh semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antarwilayah dunia. Antusiasme masyarakat dunia barat terhadap kebudayaan bangsa lain pun bertambah. Terlebih lagi pada tahun 1922, ditemukannya makam King Tutankhamen di Mesir oleh arkeolog Inggris, Howard Carter. Keindahaan bentuk, simbol, dan warnanya sungguh mempesona, seakan memberi ilham masyarakat dunia Barat dalam melepaskan diri dari pengaruh kebudayaan klasik. Sedangkan material yang digunakan dalam ekspresi Art Deco antara lain teracota atau bahan finishing yang mempunyai ekspresi mengkilap, seperti stainless steel, aluminium, kaca, dan chrome.
Contoh arsitektur Art Deco di tahun ini yang terkenal di dunia adalah Chrysler Building di kota New York. Bangunan ini memperlihatkan penggunaan bahan finishing yang berkesan mengkilap dan aplikasi ornamen non klasik pada eksterior.
Puncak bangunan ini berundak dan terbuat dari baja, mengabstraksi bentuk grill mobil. Pada sudut-sudut bangunan terdapat patung kepala burung elang. Sedangkan fasad Hotel Preanger di kota Bandung, Indonesia, merupakan contoh Art Deco yang menampilkan profil garis dan dekorasi, adaptasi craft dari ancient art.
Periode Streamline
Art Deco tahun 1930-an, memasuki periode bentuk streamline. Bentuk ini lahir sebagai akumulasi beberapa hal. Di antaranya adalah World Depression, Wall Street Crash di tahun 1929 yang berdampak pada efisiensi. Pada saat yang bersamaan, industri transportasi dengan bentuk aerodinamis semakin berkembang. Tampilan dekorasi Art Deco di periode ini menjadi relatif lebih sederhana. Bentuk bangunannya pun menjadi aerodinamis, streamline, dan ocean liner diilhami oleh bentuk alat transportasi pesawat udara, kapal laut, maupun mobil.
Beberapa contohnya adalah Hoover Factory dan Apartment Block di London. Kedua bangunan ini menampilkan sudut bangunan yang berbentuk lengkung dan dekorasi bangunan yang sederhana, berupa profil garis horizontal pada dinding eksterior bangunan.
Di Indonesia, tepatnya di Bandung, ekspresi aerodinamis Art Deco terlihat pada bangunan kolonial Belanda yang dulu dikenal dengan nama Denis Building, Hotel Savoy Homan, dan Villa Isola. Sedangkan contoh bangunan Art Deco yang dibangun tahun 1930-an, tetapi masih mempunyai tampilan dekoratif dan bergaris tegas adalah Dailiy Telegraph Building di kota Napier, New Zealand serta Rothmans building. Yang unik dari dekorasi bangunan ini yaitu terdapat paduan dekorasi Art Nouveau dengan Art Deco. Pada fasad bangunannya, dekorasi floralnya dapat dikatakan berakar pada Art Nouveau. Sedangkan simbol optimisme masyarakat Barat di Abad Modern yang dalam Art Deco dilambangkan dengan bentuk pancaran sinar matahari, terlukis pada garis-garis lurus yang mengelilingi bidang lengkung entrance.
Sedangkan Art Deco di wilayah tropis Miami Beach, Florida, wilayah yang dikembangakan menjadi tempat tujuan wisata baru di Amerika pada tahun 1930-an dikenal juga dengan istilah Tropical Art Deco. Warna-warna pastel pada bangunan menjadi salah satu keunikan dari Tropical Art Deco di Miami Beach, Florida.
Dinamika Art Deco terhenti ketika pecah Perang Dunia kedua. Hal ini bukan berarti jejak Art Deco menghilang dan dilupakan. Art Deco memberi pengaruh pada perkembangan gaya arsitektur pada periode berikutnya. Motif-motif dekoratifnya memberi inspirasi pada arsitektur Post Modern, yang mulai tumbuh sekitar tahun 1965-an. Sampai saat ini, berbagai peninggalan arsitektur Art Deco di berbagai belahan dunia pun masih terjaga. (Santi Widhiasih, Arsitek)
Sabtu, 28 Agustus 2010
Masjid Sultan Suriansyah, Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agamaIslam.[1] Masjid Kuin merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (Masjid Jami) dan Masjid Basirih.[2] Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjaryang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di seberangnya terdapat sungai kuin.
Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.
Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia." Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "KiaiDamang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)" . Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanghgal 10 Sya'ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).
Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi "Allah Muhammadarasulullah". Pada bagian kanan atas terdapat tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri".
Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.












