Follow This Blog

Desain Rumah Bambu

Bambu adalah bahan bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. di Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak"..

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

dunia ini bagai selembar kertas putih, memerlukan warna-warni yang indah.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 30 Maret 2010

Rumah Adat Betang, Kalimantan Tengah


Pada masa lalu, kehidupan suku-suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok-kelompok. Di mana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Huma Betang (Rumah Betang).

Betang memiliki keunikan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan.

Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B), selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun serta anti rayap.

Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa di dalamnya, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Di dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga.

Pada halaman depan Betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan Betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikorbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman Betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.

Pada bagian belakang dari Betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada Betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang Betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah.

Salah satu kebiasaan suku Dayak adalah memelihara hewan, seperti anjing, burung, kucing, babi, atau sapi. Selain karena ingin merawat anjing, suku Dayak juga sangat membutuhkan peran anjing sebagai 'teman' yang setia pada saat berburu di hutan belanntara. Pada zaman yang telah lalu suku Dayak tidak pernah mau memakan daging anjing, karena suku Dayak sudah menganggap anjing sebagai pendamping setia yang selalu menemani khususnya ketika berada di hutan. Karena sudah menganggap anjing sebagai bagian dari suku Dayak, anjing juga diberi nama layaknya manusia.

Sangat patut disayangkan seiring dengan modernisasi bangunan-bangunan masa sekarang, Betang kini hampir di ujung kepunahan, padahal Betang merupakan salah satu bentuk semangat serta perwujudan dari sebuah kebersamaan suku Dayak. Mungkin nanti Betang akan benar-benar punah tetapi merupakan tanggung jawab kita kepada leluhur untuk tetap mempertahankan semangat Huma Betang. Patut kita sadari di dalam diri ini pasti terdapat rasa untuk tetap memperjuangkan kebudayaan dari leluhur.

Hardscape




Selain rumput dan pepohonan di halaman rumah Anda tentu juga ada teras, carport, jalan setapak menuju bangunan, atau kolam. Bagian-bagian tersebut dalam penataan lansekap disebut hardscape. Elemen hardscape seringkali lebih bersifat fungsional, seperti misalnya carport untuk memarkir kendaraan, jalan setapak untuk menghubungkan gerbang dengan bangunan dan jalur sirkulasi perawatan taman, atau teras dan patio sebagai ruang penerimaan dan berkumpul.

Walaupun bersifat fungsional, bukan berarti hardscape tidak dapat dibuat indah, bahkan hardscape sebenarnya merupakan bagian dari penataan lansekap dan harus dirancang menjadi satu kesatuan dengan elemen tumbuh-tumbuhan. Salah satu cara mengolah dan mengintegrasikan hardscape ke dalam penataan lansekap adalah dengan memilih bahan yang sesuai dengan konsep taman Anda. Beberapa yang dapat digunakan untuk hardscape adalah:

1. Beton

Beton cocok untuk semua gaya lansekap. Selain kuat dan tahan lama, beton juga fleksibel dapat dibuat menjadi berbagai bentuk dan digunakan untuk carport, teras, pijakan setapak, ataupun patio. Beton dapat dibeli dalam bentuk panel-panel dalam berbagai macam ukuran, ataupun dibuat langsung di halaman Anda. Beton juga dapat dikombinasikan dengan kerikil atau batu-batu alam kecil untuk menciptakan tekstur yang berbeda.

2. Keramik

Keramik yang digunakan untuk taman adalah kramik khusus outdoor yang permukaannya tidak berglasur. Seperti halnya beton, keramik juga cocok untuk hampir semua elemen hardscape. Keramik dapat disusun untuk membentuk berbagai macam pola lantai pada taman Anda, atau dikombinaskan dengan beton ataupun bebatuan.

3. Batu Alam

Batu alam lebih sering digunakan sebagai jalan setapak. Batu-batu alam besar dapat disusun seperti pijakan kaki membentuk pola tertentu di bidang berumput sebagai petunjuk arah langkah. Karena batu alam dijual dalam bentuk tidak beraturan, maka pilihlan ukuran dan bentuk alam yang Anda inginkan, juga potong dan rapikan dahulu sebelum dipasang.

4. Dak kayu

Kehadiran dak kayu di halaman dapat menimbulkan kesan yang lebih lembut dan hangat daripada beton ataupun keramik. Dak kayu biasanya digunakan untuk patio dan pool deck sebagai tempat untuk bersantai dan berkumpul.

Elemen hardscape juga dapat diperlembut dengan penambahan tanaman dalam pot, atau dengan pemasangan kanopi atau pergola. Apapun bahan hardscape yang dipilih pastikan bahan tersebut tidak licin agar tidak menggangu aktivitas di atasnya.

Dirangkum dan dikembangkan dari:

-Seri Rumah Ide: Simple Garden

-IDEA Inspirasi Desain: 37 gaya unik & cantik ruang luar

Pagar : Pembatas dan pelindung nan asri


Fungsi pagar yang paling utama adalah untuk membatasi dan melindungi daerah lahan yang menjadi properti Anda. Karena fungsinya yang melindungi, seringkali pagar dibangun sangat tinggi dan tebal membentengi properti, bahkan sengaja dibuat untuk menciptakan kesan keras, kaku, dan memusuhi lingkungannya. Padahal idealnya tinggi dan tebal pagar dirancang proporsional, sebanding dengan panjang dan lebar lahan, tinggi bangunan, dan jarak pagar ke bangunan.

Tidak dapat dipungkiri, di beberapa daerah di Indonesia jenis pagar yang tinggi dan membentengi masih menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari karena faktor keamanan. Namun sekarang sudah banyak juga daerah yang bisa mengakomodasi pagar rendah dengan keberadaan portal, sistem one gate entry and out, ataupun pos satpam. Bahkan sekarang di perumahan tertentu ada peraturan yang mewajibkan penghuninya untuk menggunakan pagar yang rendah atau tanpa pagar untuk membuka kontak visual ke bangunan dan menciptakan kesan lapang.

Untuk menjaga kesatuan desain pagar dengan desain bangunan, pemilihan bahan pagar juga harus disesuaikan dengan bentuk dan bahan fasade bangunan. Pemilihan bahan pagar yang tepat selain mempengaruhi bentuk pagar juga dapat “mengoreksi” proporsi pagar, menciptakan kesan lebih pendek atau lebih tinggi, juga mengatur kontak visual ke bangunan dan lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis bahan pagar yang umum digunakan adalah:

1. Logam

Pagar dari berbagai jenis logam seperti stainless steel, besi tempa, atau baja banyak digunakan karena selain kuat, bahan ini juga mudah dibentuk dan diberi finishing mengikuti gaya arsitektur bangunan. Pagar logam dapat berbentuk jalusi untuk memberi kontak visual, masif untuk memberi kesan kokoh, ataupun lembaran-lembaran berlubang untuk kesan minimalis.

2. Kayu

Pagar kayu dapat dipakai untuk menciptakan kesan hangat dan ramah. Pagar kayu dapat dibuat dalam bentuk lembaran papan, jalusi, atau bahkan lingkaran sesuai dengan bentuk penampangnya dan semuanya dapat disusun dalam berbagai macam konfigurasi vertikal, horizontal, ataupun seperti mozaic. Karena pagar adalah bagian rumah yang banyak terekspos cuaca, maka bahan kayu yang dipakai untuk pagar pun harus kayu yang kuat seperti kayu jati, atau kayu merbau dan diberi perawatan anti rayap.

3. Beton

Pagar beton sangat kokoh dan awet, kesan yang ditimbulkannya pun solid dan tertutup sehingga lebih cocok digunakan pada bangunan berhalaman luas agak tidak berkesan sumpek. Untuk memperlembut tampilannya, pagar beton dapat diberi finishing susunan bebatuan alam seperti batu apung, atau batu candi, juga sentuhan tanaman untuk menambah kesan organik.

4. Bambu

Untuk kesan vernakular atau tradisional, bambu dapat digunakan sebagai bahan pagar, baik sebagai material utama ataupun sekadar aksen. Batang bambu dapat digunakan secara utuh atau dipotong menjadi bilah-bilah bambu untuk membentuk bidang pagar. Untuk menjaga kekuatannya gunakan teknik sambungan yang benar dan hindari penggunaan paku untuk mencegah kerusakan serat bambu.

5. Tanaman

Pagar tanaman dapat dibentuk masif dan tebal menyerupai pagar tembok dari deretan semak untuk melindungi halaman Anda ataupun lembut dan mengalir dengan deretan tanaman pandan-pandanan ataupun bunga-bungaan untuk sekadar memberikan batasan wilayah.

Untuk sentuhan akhir yang lebih manis atau bahkan dramatis, berbagai aksesoris seperti lampu, kotak surat, ataupun nomor rumah dapat dipakai untuk melengkapi tampilan pagar Anda.

Dirangkum dan dikembangkan dari:

- seri rumah ide: pagar

Minggu, 28 Maret 2010

Atap Arsitektur Dayak

Evolusi atap bangunan rumah terus terjadidi Kalimantan tengah.Kondisi ini mudah dilihat.Begitu mendarat di bandara Tjilik Riwut,Palangkaraya,ibu kota provinsi ini,akan terlihat setidaknya tiga jenis atap pada bangunan-bangunan bandara.

Atap di bangunan eks ruang VIP bandara hingga sekarang masih berupa ulin atau lazim disebut sirap,warnanya coklat.Bangunan renovasi yang menaungi ruang kedatangan,ruang tunggu dan keberangkatan sudah memakai atap metal warna merah menyala dengan bentuk genteng Jawa.
Adapun ruang VIP baru yang selesai dibangun tahun ini beratap warna coklat kehitaman terbuat dari metal,berbentuk mirip ketupat.Kompleks bandara seolah menjadi diorama besar yang menggambarkan perjalanan evolusi atap di bumi Tambun Bungai,Kalteng.
Tentu saja ragam atap tidak saja ditemui di kompleks bandara,tetapi tersebar pula di seluruh penjuru kota Palangkaraya,Ada bangunan yang masih setia menggunakan sirap.Kini semakin banyak pula yang memilih alternatif jenis atap lainnya.
Tokoh masyarakat dayak yang turut berperan dalam pendirian Provinsi Kalteng,Sabran Ahmad,selasa (6/11) di Palangkaraya,menuturkan,masyarakat di pedalaman pada masa lalu menggunakan atap dari kulit kayu,selain daun rumbia atau nipah.
Begitu tahu cara mengolah kayu ulih menjadi atap,mereka mulai memakai sirap sebagai pelindung rumah dari guyuran hujan dan empasan sinar matahari.Jadilah sirap sebagai penanda rumah khas dayak.
"Pada awal kota Palangkaraya dibangun sekitar tahun 1957,gedung perkantoran umumnya menggunakan atap sirap.Adapun rumah warga beratap daun nipah atau rumbika.Seng bergelombang pun pelan-pelan mulai di pakai sebagai atap,"kata Sabran.
Tahun terus berganti.Dekade 70-an pun datang sembari datang mengusung mode genteng tanah yang datang dari Jawa..Sekitar lima tahun terakhir kata Sabran,datanglah produk genteng berbahan metal terutamadidominasi warna merah,biru,dan hijau.Warna yang disebut terakhir tergolong sedikit di palangkaraya dibandingkan dengan dua warna lainnya.
Terlepas darai sifat keterbukaan masyarakat Dayak menerima pengaruh dari luar,Sabran menengarai perubahan jenis atap di Kalteng kini juga dipengaruhi kesulitan mendapapatkan kayu ulin yang saat ini terbilang langka.Padahal,kayu ulin dalah bahan sirap yang kemudian mengejawantah menjadi ikon atap bangunan khas dayak.
"Saya rasa evolusi atap ini berjalan dengan sendirinya,tidak ada perencanaan," kata Sabran.Ulin langka,produk atap metal bermunculan.Alhasil,proses perubahan atap pada bangunan kantor atau pemukiman warga Kalteng ini pun terjadi.
Merinci keunggulan atap ulin,Sabran menuturkan,sirap mampu bertahan antara 30 hingga 60 tahun,bahkan apabila bangunan menggunakan sangkuak (bilah atap dari papan ulin dengan panjang sekitar 70-an sentimeter dan lebar 20-an sentimeter,dengan tebal hampir satu sentimeter.
Pada Mei lalu kompas menyaksikan atap sirap di sebuah rumah betang atau rumah panjang bertiang tinggi khas dayak di Tumbang malahoi,Kecamatan Rungan,Kabupaten Gunung Mas,yang menurut perkiraan arkeolog dibangun sekitar tahun 1869.
Mengacu pada Undang-undang bangunan dan gedung tahun 2002,ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Tekhnik Universitas Palangkaraya Wijanarka menyatakan pentingnya mempertahankan karakterlokal,termasuk dalam hal atap.Ini logis karena atap adalah bagian dari rumah yang berada di luar sehingga mudah terlihat dalam membawakan karakter bangunan.
Ia mencontohkan bangunan Kantor Dinas Kehutanan Kaltengyang telah berubah jenis atapnya dari ulin berwarna kecoklatan menjadi atap metal berwarna merah menyala.Bentuk atapnya pun tidak lagi memanjang dan berujung runcing,seperti halnya sirap ulin,tetapi persis genteng dari jawa."ini yang kemudian memunculkan kesan arsitektur lokal,tetapi rasa jawa," kata Wijarnaka.
Menurut Wjarnaka konsep minimalis dan post modern tak pelak memmang ikut mengakibatkan pudarnya kesan lokal arsitektur bangunan setempat.Pembangunan gedung pun,apalagi yang dibiayai proyek,harus mempertimbangkan efisiensi biaya.
Namun dia berpandangan,alasan efisiensi biaya atau kelangkaan ulin dapat diatasai apabila baik arsitek maupun perencana bangunan pintar-pintar memilih bahan pengganti yang tidak menghilangkan karakter lokal.Misalnya,kalaupun menggunakan genteng metal,pilihlah gentengnya yang mirip sirap.Warnanya juga sebaiknya gelap seperti sirap,jangan yang menyala.
Pemilihan atap ulin merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dayak yang mampu menciptakan kesejukan di dalam ruangan."atap metal ynag menaikkan suhu di dalam ruang sebenarnya juga lebih cocok di pakai di daerah berhawa dingin,bukan di daerah yang panas seperti disini" ujar Wijarnaka.
Upaya melestarikan karakter arsitektur lokal dayak dapat di mulai dari gedung-gedung milik negara,misal kantor-kantor dinas dan instansi pemerintah.
Sebagai ilustrasi,saat ini gedung di kantor Gubernur kalteng pun sedang direnovasi.Selasa siang,sebuah truk ekspedisidatang dari banjarmasin,kalimantan selatan yang membawa atap asbes.
Atap asbes itu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 18 x 18 sentimeter.Salah satu dari bujur sangkar tadi di gores menjadi 3 sehingga ujungnya saling berpisah,tetapi pangkalnya masih menyatu di sisi lain asbes.Ketiganya berujung runcing sehingga mirip tiga bilah sirap ulin yang berjajar.
Meski bukan berbahan ulin,pemilihan atap asbes berbentuk sirap itu boleh juga karena sepintas -apalagi kalau dari jauh-masih ada kesan sirap yang khas dari Kalimantan.lewat pemilihan atap akan terjaga karakter lokal suatu bangunan.
(C ANTO SAPTOWALYONO )

Menggagas Rumah Kayu "Tahan" Api




Senin, 28 April 2008 | 02:18 WIB

C Anto Saptowalyono

Rumah panggung banyak ditemukan di Kalimantan Tengah. Di Palangkaraya, jenis rumah ini mudah dijumpai di kawasan rawa, terutama di tepian jalur Sungai Kahayan. Namun, rumah berdinding dan berlantai kayu ini ternyata rawan kebakaran.

Kebakaran yang menghanguskan dua barak berisi delapan pintu rumah sewaan dan satu rumah di Flamboyan Bawah, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), Selasa (8/4) pagi, menjadi salah satu bukti bahwa rumah kayu mudah terbakar.

Kepala Kepolisian Resor Palangkaraya Ajun Komisaris Besar Andi Fairan menuturkan, dugaan sementara penyebab kebakaran yang mengakibatkan 52 jiwa harus mengungsi ke rumah kerabat ini akibat ledakan kompor minyak tanah. ”Untuk mengetahui asal api, kami minta bantuan tim Laboratorium Forensik Surabaya,” kata Andi.

Ternyata, kawasan Flamboyan Bawah pernah mengalami kebakaran besar tahun 1998. ”Saat itu di sini sangat padat, ada 1.071 keluarga. Rumah berdempetan sehingga api ganas merambat,” kata Ketua RT 05 Sofian Sandung. Kejadian itu menjadi pengalaman berharga untuk mencegah kebakaran berulang.

Langkah yang diambil ialah menata kawasan Flamboyan Bawah sehingga rumah tidak lagi berdempetan. Jumlah warga yang boleh tinggal di situ pun dibatasi, hanya 653 keluarga. ”Warga selebihnya dipindah ke kawasan permukiman bilangan Jalan G Obos,” kata Sofian, Ketua Tim Penataan Kawasan Flamboyan Bawah.

Permukiman rumah panggung itu pun berubah. Rumah- rumah terpisah dalam beberapa petak yang dibatasi ruang kosong dan titian ulin. Titian ulin adalah jalan layang mini selebar dua hingga empat meter, terbuat dari jajaran kayu ulin, dibangun sekitar tiga meter di atas permukaan air rawa. Titian ini menghubungkan satu rumah panggung dengan rumah panggung lainnya.

Penataan agar rumah warga tidak saling berjejalan ini terbukti mampu mencegah berulangnya kebakaran massal di Flamboyan Bawah. Ketika terjadi kebakaran Selasa pagi lalu, nyala api dapat dilokalisasi ”hanya” pada dua barak dan satu rumah, dan tidak merambat. Tetapi, rumah kayu tetaplah rumah yang rawan terbakar.

Padahal, di Palangkaraya ada beberapa kawasan permukiman yang didominasi rumah kayu; yakni di Mendawai, PU Bawah, Flamboyan Bawah, Rindang Banua, dan Murjani Bawah. Total lebih dari 13.000 jiwa tinggal di 3.400-an rumah di kawasan seluas 120,50 hektar itu.

Flamboyan Bawah terbakar tahun 1998. Rindang Banua terbakar tahun 2000. Bahkan, pada tahun 2003 lalu pun pernah terjadi kebakaran besar di kawasan rumah kayu PU Bawah, berjarak sekitar satu kilometer dari Flamboyan Bawah. Sebanyak 750 keluarga dengan total 2.624 jiwa kehilangan tempat tinggal. Kerugian ditaksir Rp 6 miliar.

Meminimalkan kebakaran

Pertanyaannya, adakah cara meminimalkan kebakaran di permukiman rumah kayu? ”Di bagian dapur, kami biasa memberi landasan seng sehingga kompor tidak langsung mengenai lantai kayu,” kata Muhamad, warga Flamboyan Bawah yang rumahnya selamat dari kebakaran, membagi pengalamannya.

Caranya, seng ditaruh di lantai kayu, lalu di atasnya ditaburi tanah setinggi dua jari (sekitar tiga sentimeter), dilapisi lagi dengan selembar seng, dan baru di atasnya diletakkan kompor. Di antara kompor dan dinding dapur pun ditaruh seng untuk menghindarkan jilatan api.

Mama Edo, pemilik warung gorengan dan mi rebus di Flamboyan Bawah, membikin semacam kotak dengan pagar pembatas di empat sisinya. Dengan demikian, abu bakaran dari tungku kayu bakar mengumpul di kotak beralas seng itu sehingga hangusnya lantai oleh api dapat dihindari.

Menghindari api, kata Ketua Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Palangkaraya, Wijanarka, sebaiknya bukan hanya di dapur, tetapi bisa semua bagian rumah kayu tersebut. Oleh karena itu, tidak ada salahnya warga yang tinggal di rumah kayu mengadopsi kearifan para tukang bangunan di Kabupaten Kapuas.

”Tukang di Kapuas banyak yang melapisi dinding dan lantai rumah kayu dengan plester semen. Plester semen bukan penghantar panas yang baik seperti halnya kayu, sehingga ini dapat meminimalkan terjadinya kebakaran,” jelasnya.

Agar semen mau menempel di kayu, tambah Wijanarka, harus dipasang jejaring kawat seperti yang biasa dipakai untuk pagar taman. Jejaring kawat yang dipasang melekat menggunakan paku pada dinding dan lantai kayu ini akan menjadi tempat ”berpegangan” plester berupa adukan semen dan pasir setebal 1,5 sentimeter itu.

Lapisan plester ini dapat dibuat di sisi dalam dan sekalian juga di sisi luar dinding kayu. Minimal, kata Wijanarka, lapisan plester ini dibuat di dinding dan lantai dapur rumah kayu sehingga biaya pembuatan terjangkau.

Bagi warga yang mampu, plester semen tadi pun dapat ditempeli porselen. Selain makin sedap dipandang, adanya lapisan porselen tadi pun makin membentengi dinding atau lantai kayu dari jilatan api.

Hal yang juga penting bagi warga yang tinggal di rumah kayu, kata Wijanarka, adalah pembuatan cerobong asap untuk mencegah pemanasan dinding kayu dan atap akibat pembakaran dari alat masak di dapur. Hal yang lebih penting lagi, kebakaran bisa dicegah apabila warga selalu menjaga api saat memasak atau keperluan lain.

Pencegahan kebakaran di rumah kayu harus melekat sebagai kebiasaan penghuninya. ”Ketika menyalakan lilin saat ada pemadaman listrik, misalnya, jangan sekali-sekali lalai menaruh batang lilin langsung di lantai kayu,” kata Wijanarka.

Apabila hendak menyalakan lilin, berilah alas berupa piring atau gelas, sehingga ketika penghuninya tertidur pun api lilin tidak membakar kayu. Kebakaran dapat dipicu dari nyala api yang kecil.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More