Follow This Blog

Desain Rumah Bambu

Bambu adalah bahan bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. di Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak"..

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

dunia ini bagai selembar kertas putih, memerlukan warna-warni yang indah.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Masjid Sultan Suriansyah, Kalimantan Selatan


Masjid Sultan Suriansyah atau Masjid Kuin adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agamaIslam.[1] Masjid Kuin merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (Masjid Jami) dan Masjid Basirih.[2] Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjaryang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di seberangnya terdapat sungai kuin.

Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.

Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia." Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "KiaiDamang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)" . Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanghgal 10 Sya'ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).

Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi "Allah Muhammadarasulullah". Pada bagian kanan atas terdapat tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri".

Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

F. Silaban



Arsitek yang lengkapnya bernama Friedrich Silaban Ompu Ni Maya lahir pada tanggal 16 Desember 1912 di Bondolok Tapanuli, Sumatera Utara. F. Silaban merupakan putera kelima dari pasangan yang bernama Boru Simamora dan Sintua Djonas Silaban. Pada tanggal 18 Oktober 1946 F. Silaban menikah dengan Letty Kievits dan dikaruniai 10 (sepuluh) orang anak, dua perempuan dan delapan laki-laki. Salah seorang anaknya mengikuti jejak sang ayah sebagai Arsitek.
Beliau adalah Ir. Panogu Silaban lulusan Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.Setelah menyelesaikan pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, Tapanuli tahun 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta pada tahun 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada tahun 1950, Beliau kemudian bekerja menjadi pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie di Pontianak Kalimantan Barat (1937) dan sebagai Kepala DPU Kotapraja Bogor hingga 1965.

Dari sejumlah karya tercatat beberapa hasil rancangannya antara lain Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor, Kantor Perikanan Darat Sempur, Kota Bogor, Rumah Dinas Walikota Bogor (1935), Bank Indonesia, Jalan Thamrin Jakarta, Bank Indonesia, BLLD, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Bank Negara 1946, Masjid Istiqlal Jakarta, Flat BLLD, Bank Indonesia Jalan Budi Kemuliaan Jakarta, Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya, Gedung Bank Indonesia di Surabaya, Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) Pancoran Jakarta, Gedung Pola Jakarta Hotel Banteng, yang kemudian menjadi Hotel Borobudur. Selain itu beberapa karya lainnya adalah rumah tinggal dan monumen–monumen, antara lain Monumen Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta, Tugu Selamat Datang Bunderan HI Jakarta, Taman Makam Pahlawan Kalibata (peresmian 10 Nopember 1954) dan Makam Raden Saleh Bondongan Bogor.

Karya-karyanya itulah yang membuatnya mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Penghargaan dimaksud antara lain berupa tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang disematkan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1962. Penghargaan Honorary Citizen (warga negara kehormatan) dari New Orleans, Amerika Serikat. Di samping itu Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak ciptanya, sehingga disebut sebagai "Silaban Dom", atau qubah Silaban. Bangunan yang masih berdiri kokoh karya dari arsitek Silaban di Kota Bogor antara lain Rumah Dinas Walikota Bogor, dan di Jakarta yaitu Masjid Istiqlal.

Ide dan karya beliau sebagian muncul antara tahun 1950–1960. Pada saat itu F. Silaban sangat dekat dengan sosok Presiden Soekarno, bahkan sering mendukung ide–ide yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno termasuk ide-ide tentang arsitektur dan produknya. Hal ini dapat dilihat pada saat Presiden Soekarno mencetuskan ide adanya Nation Building yang merupakan paham tentang bangunan yang mampu mencerminkan dan membangkitkan kebanggan nasional, sehingga bangunan–bangunan yang tercetus berskala raksasa, megah dah heroik.
Sumber: dari berbagai sumber

Ernst Neufert


Ernst Neufert was born in Freyburg an der Unstrut. At the age of 17, after five years of working as a bricklayer, Neufert entered the school of construction (Baugewerbeschule) in Weimar. His teacher recommended him to Walter Gropius in 1919 as one of his first students of the Bauhaus. He finished his studies in 1920, and together with the expressionist architect Paul Linder (1897-1968) embarked on a year-long study tour of Spain, where he sketched medieval churches. In Barcelona he met Antonio Gaudi, whose architecture made a deep impression on the young student. Neufert later became one of the first advocates of Gaudi in Germany. After 1921 he returned to the Bauhaus and became chief architect under Gropius in one of the most prominent architecture studios of the Weimar Republic.

In 1923 he met the painter Alice Spies-Neufert, a student of the Bauhaus masters Georg Muche and Paul Klee, and married her in 1924. They had four children (Peter, Christa, Ingrid and Ilas).

In 1925 Neufert worked in close collaboration with Gropius on the realization of the new Bauhaus buildings in Dessau and the completion of the masters' houses for Muche, Klee, andWassily Kandinsky. In 1926 he returned to Weimar and became a teacher under Otto Bartning at the Bauhochschule (Building High School), known as "the other Bauhaus". From 1928 to 1930 he realized various projects, such as the Mensa am Philosophenweg and the Abbeanum in Jena . In 1929 he built his private home in Gelmeroda, a village near Weimar (today the home of the Neufert Foundation and Neufert Box, a small museum with changing exhibitions). After closure of the Bauhochschule by the Nazis, he moved to Berlin and worked in a private school for art and architecture founded by Johannes Itten, which was forced to close as well in 1934.

Very early Neufert recognized the possibilities for rationalization of building processes, but also the need for normative rules.

In 1934 he became the resident architect of Vereinigte Lausitzer Glaswerke (United Lusatia Glassworks). He designed the private home of its director Dr. Kindt (with colour glass byCharles Crodel) and various housing, office, and factory buildings in Weißwasser, Tschernitz and Kamenz. At the same time he worked on his Architects' Data, which was published in March 1936 and which remains an essential reference work, having been translated into 18 languages.

In 1936 traveled to New York and Taliesin to visit Frank Lloyd Wright and gauge his prospects of finding work in the United States. But in New York he was notified of the enormous success of the first edition of his book and returned to Berlin to prepare the second edition. New industrial commissions for his studio led to his decision to remain in Germany. In 1939 he was appointed by Albert Speer to work on the standardization of German industrial architecture.

After World War II, Neufert was appointed professor at the Darmstadt University of Technology. He opened his own office, Neufert und Neufert, with his son Peter in 1953 and realized numerous projects, including many industrial buildings. He died in 1986 in his home in Bugneaux-sur-Rolle in Switzerland.

Ruang baca dan perpustakaan pribadi


Perpustakaan pribadi di dalam rumah akan menjadi nilai tambah bagi rumah dan tentunya membuat tamu dan penghuni rumah lebih betah berlama-lama di rumah. Posisi perpustakaan pribadi dalam rumah biasanya berada di dekat ruang tamu atau dekat dengan rumah tidur. Bagi mereka yang senang berbagi koleksi bukunya dengan tamu akan memilih lokasi yang dekat dengan ruang tamu, sementara mereka yang cenderung lebih menyukai privasi akan memilih perpustakaan yang dekat dengan kamar tidur utama.

Pembangunan perpustakaan pribadi juga hendaknya memperhatikan beberapa hal penting seputar fungsionalitas perpustakaan dan bagaimana menjaga koleksi buku agar awet dan tahan lama. Berikut beberapa tips seputar pembangunan perpustakaan pribadi dalam rumah:

Jauh dari dapur, lokasi perpustakaan sebaiknya jauh dari dapur. Lokasi yang jauh dari dapur untuk mencegah asap dari dapur dan membuat suasana perpustakaan menjadi sumpek dan pengap.

Jauh dari kamar mandi, udara lembab yang berasal dari kamar mandi sebaiknya dihindari. Udara lembab dapat merusak buku dan menyebabkan buku lapuk.

Hindari sinar matahari langsung, perpustakaan sebaiknya tidak terkena sinar matahari langsung. Sinar matahari langsung dapat membuat halaman buku menjadi kuning dan rusak.

Perhatikan sirkulasi udara, untuk mencegah udara dalam perpustakaan menjadi lembab maka sirkulasi udara masuk dan keluar dalam perpustakaan harus diperhatikan. Posisi jendela dan penggunaan AC (air conditioner) dapat membantu mengurangi kelembaban dan mengatur sirkulasi udara dalam perpustakaan

Awasi rayap dan hama, gunakan obat anti rayap pada rak kayu dan jangan biarkan ruang kosong antar buku. Hal ini untuk menghindari rayap dan tikus atau hama lain yang dapat bersembunyi di perpustakaan anda.

Bersihkan dari debu, selalu rutin bersihkan perpustakaan pribadi anda dari debu dengan kemoceng atau vacuum cleaner.

Jumat, 27 Agustus 2010

Wisma Tamu

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More