Follow This Blog

Desain Rumah Bambu

Bambu adalah bahan bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. di Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak"..

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

dunia ini bagai selembar kertas putih, memerlukan warna-warni yang indah.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Profil Arsitek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Arsitek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Herman Thomas Karsten

Herman Thomas Karsten (Amsterdam, Belanda, 22 April 1884 – Cimahi, 1945) adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman dari Hindia Belanda. Ia adalah putra seorang profesor Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor ("Pembantu Rektor") di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya adalah seorang kelahiran Jawa Tengah.

Gelar arsitek diperolehnya dari Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delft, Belanda, dan lulus tahun 1908. Enam tahun kemudian dia berangkat ke Hindia Belanda atas ajakan seniornya, Henri Maclaine Pont, yang memiliki Biro Arsitektur. Dalam kariernya inilah ia menjadi perencana dan penasihat beberapa proyek bangunan publik di beberapa kota yang kala itu mulai berkembang akibat membaiknya perekonomian, antara lain Batavia (Jakarta), Meester Cornelis (Jatinegara) Bandung, Buitenzorg (Bogor), Semarang (Pasar Johar), Surakarta (Pasar Gede), Malang, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan, Banjarmasin, dan bahkan sampai merancang perumahan murah di bagian barat daya Kota Magelang, yaitu Kwarasan. Gaya khas Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Dia tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu.

Pada tahun 1921 Karsten menikah dengan Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, masing-masing Regina (1924), Simon (1926), Joris (1928), dan Barta (1929). Dia juga bergabung dalam Instituut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa. Karsten mengkritik banyak arsitek Belanda sebelumnya yang lebih berkonsep "menaruh Eropa di Jawa". Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, bukan Belanda. Karsten menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh. Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan. Akibat filosofi ini muncullah gaya arsitektur 'Indisch' yang populer pada masa pra-kemerdekaan.


Semenjak berdirinya Technische Hoogeschool di Bandung (ITB sekarang) Karsten menjadi salah satu pengajarnya. Pada tahun 1941 ia menjadi guru besar. Arsitek generasi pertama Indonesia banyak yang merupakan muridnya.

Secara politis, Karsten adalah orang pro-kemerdekaan, suatu sikap yang hanya diambil oleh sebagian kecil kalangan keturunan Eropa (Indo) pada masanya. Malangnya, ia ditangkap oleh tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 sampai ia meninggal di Kamp Interniran Cimahi 1945. Cita-citanya untuk meninggal di bumi Indonesia tercapai walau harus dalam situasi yang tragis.


Herman Thomas Karsten adalah arsitek lulusan Technische Hoogeschool di Delft yang masuk tahun l904. Karsten dilahirkan pada tahun 1884 di Amsterdam dari keluarga terpelajar. Ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan wakil ketua Chancellor (Pembantu Rektor/Direktur) di Universitas Amsterdam sedang ibunya berasal dari Jawa Tengah. Semasa mahasiswa, sejak tahun pertama, Karsten muda aktif di perkumpulan mahasiswa sosial demokratis (STY = Social- Technische Vereenaging van Democratische Ingenieur en Architecten), yaitu suatu kelompok mahasiswa teknik arsitekur berhaluan demokrasi. Arsitek Herman Thomas karsten membeli biro arsitek milik Henri Maclaine Pont pada tahun 1915, kakak tingkatnya yang dua tahun lebih tua darinya.Tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota. Padahal pada masa itu pada jurusan Arsitektur di Delft, kurang memperhatikan masalah perumahan maupun perencanaan kota.

Tahun 1913, pengalaman Karsten diperoleh dengan diadakannya Kongres Perumahan Internasional di Schevenigen Belanda yang secara khusus membahas permasalahan kenyamanan perumahan di Indonesia yang buruk, terutama pada sistem sirkulasi udara dan peneraangan alaminya, dengan mengetengahkan kondisi kampung-kampung di Semarang. Pengalaman selanjutnya, kunjungan ke Berlin; dimana Berlin adalah sebuah kota yang sangat maju dalam perencanaan kota dan perumahan. Bidang yang menjadi ajang kiprahnya di Indonesia sama dengan bidang yang menjadi latar belakangnya, yaitu bangunan dan perencanaan kota. Beberapa tahun sebelum Karsten datang ke Indonesia, sudah ada aktivitas~aktivitas lokal dalam perencanaan kota.

Beberapa peristiwa yang dianggap dapat dipakai sebagai tonggak perkembangan perencanaan kota modern di Indonesia, adalah:

Revolusi Industri di Eropa. Hal ini secara tidak langsung memberikan dua pengaruh penting. Pertama, peningkatan kebutuhan bahan mentah, menyebabkan timbulnya kota-kota adininistratur di Indonesia. Kedua, berkemhangnya konsep-konsep perencaan kota modern yang tercetus sebagai tanggapan atas revolusi industri Misalnya konsep “Garden City oleh Ebeneser Howard. Kesemuanya ini juga mempengaruhi Karsten dalam berkarya Indonesia .Politik kulturstelsel menyebabkan berkembangnya perkebunan tanaman keras, dan pula dianggap sebagal awal berkembangnya wilayah pertanian dan kota-kota administratur perkebunan Politik Etis (Etische Politiek). Politik mempunyai dampak bagi perkembangan perencanaan kota di Indonesia, dengan dikembangkannya perbaikan kampung kota (1934) Pengembangan Pranata dan Konstitusi Baru. Terbitnya UU Desentralisasi Decentralisatie Besluit Indisehe Staatblad tahun 1905/137, yang mendasari terbentuknya sistem kotapraja (Staadgemeente) yang bersifat otonom. Hal ini memacu perkembangan konsepsi perencanaan kota kolonial modern, khususnya Garden City atau Tuinstad". Pada pelaksanaan poin 4 (empat) yaitu politik dosentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya, kota-kota mulai berkembang pesat, salah satu penyebabnya adalah tumbuh dan berkembangnya perkebunan dan industrialisasi. Akibatnya, penduduk terlalu padat, keadaan kota semakin buruk, terutama dalam hal sanitasi dan pengadaan air minum. Dalam situasi seperti ini Karsten diangkat manjadi penasihal otoritas 1okal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum Selain dari pada itu Karsten manjadi bagian dalam kelompok orang-orang Belanda pendukung kemerdekaan untuk Indonesia Karsten sangat memperhatikan kebudayaan penduduk asli, terutama pada arsitektur dan tata ruang Kota Sebagai penasehat, Karsten menyusun suatu paket lengkap untuk perencanaan berbagai kota, dimana didalamnya terdiri dan perencanaan kota (town planning), rencana detail (detail plan) dan peraturan bangunan (building regulation). Di Jawa Karsten merencanakan sembilan dari sembilan belas kota-kota yang mendapat otoritas lokal. Kesembilan kota tersebut adalah Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun Cirebon, Meester (Jatinegara), Yogya, Surakarta, dan Purwokerto.

Dalam kiprahnya di Semarang, Karsten menerapkan prinsip perencanaan kola, penzoningan, tingkatan/hirarki jalan-jalan seperti di Eropa. Perencanaannya juga mengacu perencanam pemerintah kota sebelum Karsten datang. Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah dengan adanya pembagian lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonorni, yaitu tinggi, menengah dan rendah. Dalam perencanaan daerah Candi, Semarang, pengaruh gaya Eropa cukup dorninan terutama konsep "garden city". Hal ini terlihat dengan adanya taman umum dan halaman pada setiap rumah. Untuk perletakan rumah, taman umum dan ruang terbuka, Karsten sejauh mungkin mengikuti keadaan topografi, kemiringan-kemiringan dan belokan-belokan yang ada. Pembagian tanah dan arah jalan yang hanya terdiri dan dua kategori (utama dan sekunder), selain mengikuti keadaan tanah juga dibuat sedemikian rupa sehingga rumah-rumah dan taman-taman umum dapat memiliki pemandangan indah ke laut sebelah utara.

Bagaimana halnya dengan kiprah Karsten di dalam perercanaan dan perancangan bangunan?. Beberapa bangunan yang telah mewarnai arsitetur kota, khususnya kota Semarang adalah gedung SMN (Stoomvart Nederland), sebuah perusahaan pelayaran kolonial, yang dibangun di kawaaan pusat kota - waktu itu den - tahun 1930. Gedung kantor perusahaan kereta api (dahulu benama Zuztermaatschapijen, kemudian, Joana Stroorntraam-Maatchappiej) di jalan MH Thamrin Semarang juga hasil rancangannya. Selain bangunan kantor Karsten juga dalam kerja samanya dengan pernerintah kota, membangun banyak pasar dan museum. Pasar hasil karyanya adalah pasar Jatingaleh (1930), pasas Johar (1933), Pasar Sentral (1936) di Semarang; dan, pasar Ilir di Palembang. Sedangkan museum Sonobudoyo di kompleks kraton Yogyakarta. Karsten juga pernah diserahi tanggungjawab untuk perluasan dan modifikasi kraton Mangukunegoro ke VII di Surakarta (1917-20).

Gedung Zuztermaatschapijen sudah lebih adaptif dengan arsitektur lokal, yaitu arsitektur joglo. Untuk menyelesaikan masalah sirkulasi udara Karsten banyak membuat bukaan (pintu , jendela maupun lubang ventilasi) yang lebarnya sama dengan jarak antar trave-nya Pembukan ini dipadu dengan tinggi plafon yang sangat tinggi (5.44 M untuk ruang-ruang di pinggir, dan l0.44 pada ruang-ruang di tengah).
Perbedaan ketinggian ini sekaligus dimanfaatkan untuk pencahayaan. Untuk jenis bangunan pasar, tiga buah pasar yang ada di Semarang mempunyai keminpan arsitektur antara satu dengan lainnya, sedangkan sebuah lagi di Palembang berbeda.
Pasar Johar merupakan pasar termodern dan terbesar di Indonesia pada waktu itu, letaknya tepat disamping alun-alun Semarang yang merupakan pusat kota pada saat itu (sekarang alun-alun ini sudah tidak ada lagi). Dari segi struktur dikatakan modern karena strukur yang diterapkan di pasar Johar ini adalah terbaru di Indonesia, bahkan di dunia.
Struktur tersebut adalah struktur jamur (mushroom). Arsitek kaliber dunia Frank Lloyd Wright memakai struktur ini untuk karyanya - Johnson Waz Building di Wisconsin (1936). Bedanya, jika Karsten memakai penampang kolom maupun bagian atasnya berbentuk segi delapan maka Frank L.Wright memakai penampang bentuk lingkaran.

Pada masa itu, Karsten berhadapan dengan masalah sdm, terutama skill para ahli teknik. Karsten menginginkan peningkatan dalam pendidikan ahli telnik. Atas inisiatif suatu komite teknik, Karsten mengambil bagian dalam kuliah perencanaan kota di ITB Bandung. Akan tetapi karena invasi Jepang Karsten hanya bertugas sebagai profesor selama enam bulan saja. Pada saat Jepang masuk Indonesia tahun 1945, Karsten meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi(ET).

Senin, 21 Maret 2011

Mario Botta


Mario Botta adalah tokoh arsitek pembaharu dan pendobrak mode Eropa yang lahir di Mendrisio Swiss tahun 1943, karya-karyanya seringkali dikaitkan dengan Post-Modernism.
Latar Belakang Budaya
Negara Swiss sebagai suatu negara asal Mario Botta merupakan suatu phenomena kultural tersendiri. Negara itu berdasar budaya dan bahasa "terbelah" menjadi dua kutub : Germany dan Roman (Italia dan Perancis). Dalam sejarah rancang bangunan, kedua geografi kultural itu tidak hanya berlainan posisi demografis, tetapi mengakar dan mewujud dalam representasi dan pernyataan gubahan bentuk. Swiss bagian utara mendapat aksen Germany yang sangaat kuat dengan arah dan orientasi yang kuat pada transformasi tradisional ke rasional, pengakuan individual dan industrial. Sementara di Selatan, corak bangunan sangat dipengaruhi oleh keragaman sumber yang kaya akan kemungkinan dan kebutuhan untuk mencari representasi kolektif tipologik.
Selatan Swiss lebih terbuka dan hangat secara sosial. Pada lanskap dan topografi bangunannya, Utara dan Selatan Swiss tidak mudah dapat dibedakan melalui suatu generalisasi. Sebab disana-sini terdapat banyak "interfaces" dan
kerangka dasar yang sama oleh sistem pendidikan (ETH Zurich dan Laussane) juga oleh Peraturan Bangunan (Building Codes); meskipun dari satu Kantoon ke yang lainnya ada beberapa perbedaan.
Bagi Sejarah Seni Bangunan, Swiss pada Abad ke 20 bukanlah negeri yang tidak dikenal sebagai panggung yang memikat pelajar dan praktisi rancang bangunan. Hannes Meyer (1889-1954) yang pernah memimpin Bauhaus yang terkenal itu. merupakan putra Swiss. idea modern dalam seni bangunan masih merupakan tradisi tersendiri di Swiss. Kelanjutan tradisi modernistik dalam seni bangunan tidak menyurut, tetapi hingga kini berlanjut. Yang sangat menarik, Mario Botta berada pada posisi berkarya di antara kebutuhan dan pengaruh yang kuat: "Modernisme" dan "Historisme" khususnya dalam konteks warisan prinsip seni bangunan Palladian.Representasi yang kuat dari yang terakhir ini dipelopori oleh Bruno Reichlin dan Fabio Reinhart ; yang merupakan kolega dekat Mario Botta dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Aliran Tessin. Corak bangunan Palladian memiliki kontinuitas yang kuat di Italia Utara termasuk Swiss; dari Palladio akhir Abad 16, dilanjutkan oleh Scamozi pada awal abad 17, kemudian Lord Burlington di Inggris pertengahan Abad ke 18, hingga puncaknya pada Durand di awal Abad ke 19. Dalam beberapa hal rancang bangun, Mario Botta sangat kuat menganut gubahan geometri abstrak
yang kuat sebagaimana para arsitek modern sejak 1920-an; khususnya Le Corbusier. Sekalipun demikian Botta tidaklah cenderung pada Eklektisme pada seni bangunan klasik seperti oleh Andrea Paladio pada Abad ke 16.
Dari Casa Cadenazzo hingga Casa Rotonda: Debut Botta
Pada awal masa kiprahnya sebagai arsitek, Mario Botta semula dikenal sebagai arsitek rumah tinggal. Botta membangun rumah-rumah tinggal di: Cadenazzo , Riva San Vitale dan Ligornetto. Setelah menamatkan pendidikan arsitektur di Milan dan Venezia, Botta melengkapi debutnya sebagai arsitek terkenal Eropa dengan Rumah Tinggal: Casa rotonda 1980-82 di Stabio. Tentang hunian, Botta punya idea tersendiri yang tampaknya bertentangan dengan Giorgio Grassi yang menuntut hubungan harmoni melalui suatu nilai kolektif suatu bentuk
diantara masyarakatnya. Sementara, Botta justru sebaliknya, mengundang suatu "interplay" antara luar dan dalam yang mampu menghasilkan suatu jalinan kerjasama melalui "redefinisi bentuk" yang sudah dikenal. Botta
tidak segan-segan memberi tempat pada keragaman tuntutan nilai dari perorangan dan eksperimen bentuk dengan tidak menafikan kepentingan kolektif untuk keseragaman dan rasionalitas.
Disain rumah hunian yang dimulainya sejak tahun 1961, merupakan suatu penjelajahan segala kemungkinan.Kesimpulan sementara yang diperolehnya ternyata tipologi hunian untuk keluarga tidak nampak lagi.
Botta tidak putus asa, namun terus mencari pendefinisian kembali unsur-unsur tradisional rancang bangunan. Idea Casa Rotunda merupakan gubahan yang sama sekali lain dan menggugah citra rasa historik . Bentuk cylindric yang dipilihnya untuk Casa Rotonda mengingatkan orang pada Menara Hunian Abad Pertengahan. Casa ini bukan hanya punya konteks historik pada daerah Tesin, tetapi sangat sensitif mengakomodasi iklimnya. Teriknya matahari ditanggulangi oleh dinding yang tegar dan masif, sementara pemandangan ke lembah Tesin dibuka dengan jendela dan teras yang optimum dengan komposisi yang dramatik.
Aliran Tessin dan Botta
Di dalam konteks seni bangunan kontemporer dunia dan khususnya Eropa, Mario Botta sendiri merupakan suatu pribadi yang kuat; tercermin dalam rancang bangunnya dengan gubahan variasi volume dan bidang geometrik .
Kekuatan rancang bangunan Botta cenderung pada permainan bidang dan kekuatan volume bentuk dan ruang yang pernah dieksploitasi oleh Le Corbusier, Louis I Khan dan Luigi Snozzi. Hal ini tidak mengherankan mengingat mereka pernah bertemu dan magang singkat. Pada le Corbusier, Botta pernah magang untuk membangun sebuah Rumah Sakit di Venezia . Pengaruh Corbusier nampak kuat pada penggunaan volume kantilever hanya nampak pada awal-awal kariernya; khususnya pada Rumah Tinggal di Stabio. Sementara pengaruh Kahn mempengaruhi banyak karyanya. Echo dari Gedung Parlemen Kahn di Dacca, Bangladesh terlihat pula pada Rumah Tinggal di Cadenazzo ; bukaan lingkaran besar yang kuat menjadi kharakter tersendiri yang memperkuat komposisi bentuk volumenya. Snozzi bersama dengan Ivano Gianola, Livio Vacchini, Bruno Reichlin, Fabio Reinhart dan Michael Adler dikenal sebagai tokoh-tokoh Tecinese School (l'Ecole tessinoise). Dalam geografi seni bangunan Eropa, Aliran ini kuat memperagakan rancangan kontekstual dengan citra rasa kesejarahan setempat. Morphologi kota dan tipologi bangunan menjadi bagian penting dari theori urbanism Aliran Tesini ini.

Di Eropa pada khususnya dan Dunia pada umumnya, Mario Botta adalah arsitek ujung tombak dari Swiss yang membawa citra budaya bangunan dengan estetika klasik yang enerjik. Pengalaman estetik yang ditawarkan oleh karya-karya Mario Botta kaya dengan informasi dan semacam "hubungan" ke karya-karya seni bangunan klasik sepertiAlberti, Serlio dan Paladio. Sekalipun demikian, karya-karya Botta tidak terjebak pada repetisi klise. Sebaliknya, kekuatan rancang bangunan Botta berbicara mengenai re-definisi sejarah lebih melalui variasi bentuk geometri yang kuat dengan pengulangan pola tebal pada bidang-bidangnya. Semua merujuk
pada keutuhan komposisi dialokl antara keras-lembut, padat-tranparan dst.

Katedral Evry: Urbanisme Botta
rancang bangunan Mario Botta membuka bidang-bidang dinding melalui bentuk dasar geometri yang kuat. Salah satunya, Botha mengolah bukaan-bukaan yang dramatik dan kuat. 
Botta dalam merancang tidak menampakkan lelah bereksperimen dengan bahan bahan yang sangat dikuasainya dengan baik : "pola batu bata". Kekayaan pengalaman estetik yang dihasilkan oleh karya-karya Mario Botta terbangun oleh kekuatan pribadi rancangan yang tidak kompromistik. Dinding yang tegas tak berjendela atau bukaan yang dramatik oleh komposisi bidang yang kontras merupakan contoh-contoh bagaimana pernyataan rancang bangun tampil ke publik.Karya Botha juga tak lepas dari kritik. Diantaranya (yang paling keras) berasal dari Nold Egenter, seorang antropolog Swiss (negenter@worldcom.ch), yang dengan sengit mengkritik Museum San FranciscoMuseum of Modern Art; karena berskala gigantik dan tidak ramah mengakomodasi ruang publik untuk masyarakat.

Kamis, 17 Maret 2011

Han Awal


Han Awal adalah seorang arsitek Indonesia yang selalu santun dan bersuara lembut. Han Awal lahir di Malang, Jawa Timur, 16 September 1930. 
Arsitek yang lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris ini sudah menghasilkan berbagai prestasi gemilang seperti penghargaan Internasional Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage untuk bangunan Gedung Museum Arsip Nasional, dan penghargaan lainnya.
 
Karya-karya lainnya yang menonjol di Indonesia adalah Kampus Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi dan gedung sekolah Pangudi Luhur di Kebayoran Baru, Jakarta. Pada tahun 1964-1972, Han Awal juga terlibat dalam pembangunan Gedung Conefo (Conference of New Emerging Forces). Gedung yang terletak di Senayan ini kemudian dikenal sebagai Gedung DPR/MPR.

Han Awal menyelesaikan pendidikan dasarnya di Malang. Semasa SMA, Han Awal sangat tertarik dengan bidang Fisika. Tapi karena guru Fisika di sekolahnya kurang baik dalam memaparkan pelajaran, ia beralih ke angan-angan sewaktu SD untuk menjadi arsitek. Setelah lulus SMA tahun 1950, Han sebetulnya ingin belajar arsitektur di Institut Teknologi Bandung. Namun, waktu itu ITB belum memiliki jurusan arsitektur. Kebetulan beliau mendapat brosur tentang pendidikan ahli bangunan di Technische Hoogeschool Delft, Belanda, dan akhirnya berangkat untuk mengambil jurusan arsitektur di Delft dengan berbekal beasiswa dan restu dari Keuskupan Malang. 

Di sana, Beliau berkenalan dengan mahasiswa asal Indonesia, seperti Bianpoen, Soewondo, Pamoentjak, dan Soejoedi. Mereka sempat berkumpul dan membuat kelompok studi bernama ATAP yang membahas masalah pembangunan di Indonesia. Mereka juga sering mengadakan pameran serta ekskursi, seperti ke Skandinavia, dan lain-lain. Namun,akibat ketegangan hubungan Indonesia-Belanda mengenai sengketa Papua pada tahun 1956, Han Awal terpaksa pindah ke Jerman dan melanjutkan kuliah arsitektur di Technische Universitat, Berlin Barat, dan lulus tahun 1960.

Setelah Han Awal pulang ke tanah air, beliau mendirikan biro konsultan sendiri yang bernama PT Han Awal & Partners Architect. Disamping berkarya dalam bidang arsitektur, Han Awal juga sangat perhatian terhadap dunia pendidikan perancangan di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa ia adalah arsitek yang ‘menyambi’ sebagai pengajar. Mulanya karena ia diperintahkan oleh arsitek Soejoedi untuk membantu mengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang baru membuka jurusan arsitektur di tahun 1965. 

Pada tahun1969-1971, ia mengabdikan ilmu yang dimilikinya sebagai Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta. Tahun 1990-2003 beliau menjadi Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang. Tahun1997-2004, menjadi Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang. Dan tahun2003, menjadi Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI. Selain itu, ia juga aktif mendorong berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia, ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur dan memfasilitasi berdirinya ajang diskusi Arsitek Muda Indonesia.

Belakangan, Han Awal lebih dikenal sebagai arsitek konservatoris yang menggeluti pemugaran bangunan-bangunan tua. Pada tahun 1988 ia terlibat proyek pemugaran Katedral Jakarta yang sudah mengalami kerusakan berat di berbagai bagian. Karya Han Awal yang monumental di bidang pemugaran adalah Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada 111, Jakarta. Dalam pemugaran besar-besaran atas gedung yang dibangun pejabat VOC, Renier de Klerk, akhir abad ke-18 itu, beliau bekerjasama dengan arsitek Belanda, Cor Passchier dan Budi Lim, arsitek lulusan Inggris. Pemugaran dibiayai oleh berbagai pihak swasta di Belanda, sebagai hadiah ulang tahun emas Proklamasi Kemerdekaan RI, tahun 1995. 

Han Awal juga turut menangani pemugaran Gedung Bank Indonesia, Jakarta Kota. Bekas gedung Javasche Bank, bank sentral Hindia Belanda yang berdiri sejak 1828. Setelah itu, beliau berencana memugar bangunan Gereja Imanuel, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, dan sebuah rumah tua di Jalan Prapatan, Jakarta. Bangunan itu pada abad ke-19 adalah rumah seorang mayor China. 

Pada tahun 2007, beliau menjadi salah satu dari tiga orang Indonesia yang dianugerahi penghargaan Profesor Teeuw dalam sebuah acara di Erasmus Huis, Jakarta. Penghargaan yang menggunakan nama Profesor AA Teeuw, guru besar kajian budaya Indonesia di Universitas Leiden, Belanda, itu diberikan dua tahun sekali sejak 1992 kepada warga Indonesia atau Belanda yang dinilai berjasa meningkatkan hubungan kebudayaan kedua negara.

PROFIL SINGKAT
Lahir:
Malang, 16 September 1930
Istri: Anastasia Maria Theresia Anak:
- Paulus Rachmat Trisna Awal
- Gregorius Antar Awal
- Maria Daryanti Awal
- Maria Widyati Awal
Pendidikan:
- Techniche Hoogeschool Delft, Belanda, 1950-1957 - Techniche Universitat, Faculatfur Architectur, Berlin Barat, 1957-1960 Karier: 
- Direktur PT Han Awal & Partners Architect, 1971
- Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta, 1969-1971
- Proyek Conefo/MPR-DPR sebagai Asisten I Kepala Proyek, 1964-1972 - Dosen Tak Tetap FTUI Jurusan Arsitektur, 1965-2000
- Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang, 1990-2003
- Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang, 1997-2004
- Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI, 2003 
Organisasi Profesi:
- Ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur
- Anggota Dewan Kehormatan IAI DKI Jakarta
Penghargaan:
- Penghargaan AIA untuk Kompleks Universitas katolik Atma Jaya, Jakarta, 1984
- Penghargaan AIA untuk Konservasi Gedung Arsip Nasional, 1999
- Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage, bersama Budi Lim dan Cor Passchier, 2001
- Prof Teeuw Award, bersama Soedarmadji JH Damais dan Wastu Pragantha Zhong, 2007 Alamat:
Biro Arsitek Han Awal & Partners, di Pondok Pinang, Jakarta Selatan

Minggu, 28 November 2010

Achmad Noeman


Siapa tak kenal masjid Salman ITB? Masjid tidak berkubah dan tidak bertiang di dalamnya itu adalah masjid kampus pertama yang dibangun di Indonesia. Bisa dikatakan, para aktivis dakwah kampus di Indonesia tentu mengenal sosok ini. Ia berkiprah dalam dunia dakwah - utamanya - melalui bidang arsitektur. Orang mudah mengenal karya unik Ir. Ahmad Noeman dalam arsitektur masjid.

Achmad Noeman lahir di Garut, 10 Oktober 1926. Kepada ISLAMIA-REPU-BLIKA. ia menuturkan, minatnya terhadap arsitektur terilhami oleh ayahnya yang selalu menggambar sendiri masjid dan madrasah yang akan dibangun. Ayahnya, H. Muhammad Djamhari adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Garut. Setiap kali Muhammadiyah akan membangun masjid, madrasah dan kantor, ayahnya selalu meng-gambarnya sendiri. Noeman, waktu itu, selalu ikut mencermati nya. "Usia saya waktu itu sekitar delapan tahunan," demikian Noeman menuturkan.

Selepas belajar di HIS (Hollandsch Inlandsche Schooi/setingkat SD) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs/setingkat SMP) Garut, lalu SMA Muhammadiyah, Yogyakarta, Noeman menyalurkan minatnya dengan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung/ITB). Tapi, saat itu, 1948, di FTUI Bandung belum dibuka jurusan arsitektur. Noeman kemudian masuk jurusan Teknik Sipil/Bangunan. Saat TNI meminta mahasiswa FTUI bergabung di militer, pada 1949, sehubungan dengan keperluan TNI terhadap tentara yang bisa berbahasa Belanda, Noeman pun kemudian bergabung di CPM (Corps Polisi Militer). Akan tetapi itu tidak lama. Tepat pada 1952, saat FTUI membuka jurusan arsitektur, segera saja Noeman mengundurkan diri dari kemili-teran dan masuk pada jurusan arsitektur.

Semasa kuliah, dari sejak 1948, bersama kakaknya Ahmad Sadali- seorang kaligrafer, mantan Dekan Fakultas Teknik ITB, wafat 1987- yang juga kuliah di tempat yang sama, Noeman sering mendiskusikan pentingnya ada masjid di lingkungan kampus. Noeman dan kakaknya waktu itu betul-betul merasa kesulitan menjalankan shalat wajib, khususnya shalat Jumat di lingkungan kampus. "Maklum, waktu itu

di ITB masih banyak orang Belanda. Rektornya saja masih orang Belanda. Kalaupun ada orang Indonesia yang muslim, pada umumnya mereka sekuler," demikian Noeman menuturkan. Selepas kuliah, 1958, rencana itu kemudian dicoba diwujudkan dengan membuat sebuah panitia. Prof. TM. Soelaiman menjadi ketuanya. Walau belum jelas dimana masjid akan dibangun - karena belum dapat izin dan belum jelas juga sumber dananya - Noeman kemudian ditunjuk sebagai arsiteknya. Setelah selesai, panitia mengajukan ke pihak rektorat ITB. Usulan itu ditolak.

Salah satu murid Noeman, Ajat Sudrajat mengajak Panitia menemui Presiden Soekarno lewat pamannya yang menjadi komandan di Cakrabirawa, Kolonel Sobur. Empat anggota panitia - Prof. TM. Soelaiman, Ahmad Sadali, Ahmad Noeman, dan Ajat Sudrajat - ke Jakarta menemui Presiden Soekarno di Istana Negara.

Setelah berdiskusi alot, Soekarno kemudian menyetujui rencana pembangunan masjid tersebut. Soekarno juga yang memberi nama "Salman" karena terilhami oleh seorang arsitek perang yang ulung di zaman Nabi Muhammad saw. Bahkan, Soekarno yang juga alumnus ITB, bersedia menjadi pelindung masjid Salman. Sebagai bukti dukungannya, Presiden membubuhkan tanda tangannya pada gambar masjid yang dibuat Noeman. "Setelah ditandatangani Seokarno, maka segera saja Rektor menyetujuinya. Demikian juga dengan Walikota Bandung. Dari sana dimulailah pembangunan Masjid Salman," tutur Noeman.

Dalam pertemuan itu, Presiden Soekarno bertanya, mengapa Masjid Salman tidak berkubah; Waktu itu Noeman menjawab dengan logika Soekarno, bahwa dalam Islam yang penting adalah "api" nya. Asalkan itu masjid maka sah-sah saja walaupun tidak berkubah. Noeman juga menuturkan bahwa salah satu prinsip yang dipegangnya adalah ijtihad, yakni melakukan terobosan berdasarkan ilmu, tanpa imitasi dan meniru-niru. " Kalaupun salah, ijtihad itu kan tetap dapat pahala satu," tutur Noeman menjelaskan. Ijtihad Noeman itu disetujui juga oleh Soekarno dan seluruh panitia, sehingga jadilah Masjid Salman, satu masjid yang

berdiri megah tanpa kubah di atasnya.

Prinsip lain yang dipegang oleh salah seorang pendiri IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia) ini adalah shaf (barisan) shalat itu harus bersambung, tidak boleh terpotong. "Maka dari itu, setiap bangunan masjid yang saya rancang tidak ada tiang di dalamnya yang dapat memotong shaf. Contohnya di Masjid Salman. Atau yang terbaru di Islamic Center Jakarta, Kramat Tunggak. Walaupun lebarnya sampai 50 m, saya meran-cangnya tanpa tiang di tengahnya," tutur Noeman lagi. Walaupun begitu, Noeman tidak menampik alasan pembuatan tiang di dalam masjid dibenarkan dengan alasan darurat. Hanya menurutnya, harus dicari ilmunya bagaimana agar tuntunan al-Quran dan Sunnah itu bisa diaplikasikan.

Dalam menjalani profesinya, Noeman selalu ingat firman Allah SWT yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah [2] 170 Dan apabila dikatakan kepada mereka "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Menurutnya, ayat ini harus dijadikan pegangan oleh setiap arsitek Muslim untuk tidak melakukan imitasi, melainkan harus siap aktif ber-ijtihad. Selain itu, harus selalu mendahulukan aturan dari Allah SWT, dibanding dengan tradisi yang sudah ada.

Menurut Noeman, salah satu aturan Allah SWT yang juga harus selalu diperhatikan adalah soal larangan bertindak boros. Dalam QS. Al-Isra [17] 27 disebutkan Sesungguhnya pemboros-pembo-ros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. Artinya, jangan sampai terjadi pemborosan dalam membangun masjid. Dalam hal ini ia secara terus terang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap masjid yang terlalu mewah. "Akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan untuk keperluan yang lain," tuturnya.

Di usianya yang ke-84 kini, Pak Noeman - begitu dia biasa disapa - masih tampak sehat. Ia secara rutin menjalankan olah raga jalan kaki. Saat ditanya, sudah berapa banyak masjid

yang diarsitekinya, ia mengaku tidak pernah menghitungnya. Ia ingat masjid-masjid yang besar saja, seperti Masjid Salman ITB, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.

Noeman bukanlah arsitek biasa. Dia sosok seorang pejuang Muslim yang tetap konsisten dalam berdakwah. Keahliannya dalam arsitektur tidak digunakan untuk mengeruk dan menumpuk-numpuk harta benda. Seorang mantan menteri yang mengenal Noeman bercerita tentang keikhlasan sang arsitek. Kisahnya, Noeman diminta merenovasi arsitek sebagian Istana Negara dengan meletakkan sejumlah ornamen kaligrafi. "Orang itu luar biasa, setelah selesai pekerjaannya, dia tidak mau dibayar sepeser pun," kata mantan pejabat itu memuji sikap Pak Noeman.

Achmad Noeman juga memegang prinsip aqidah Islam dalam membangun masjid. Ketika ada sebuah masjid yang memaksakan dibangun dengan menanam kepala kerbau, Noeman kemudian memilih mundur, meskipun masjid itu dibangun oleh petinggi negara. Ada satu masjid terkenal di Jakarta, yang Noeman harus mendatangi sejumlah pejabat dan tokoh Islam untuk meminta pendapat mereka tentang penanaman kepala kerbau. "Alhamdulillah, akhirnya rencana penanaman kepala kerbau itu dibatalkan," papar Noeman.

Menurut salah seorang putranya, Nazar Noeman, kepada anak-anaknya, Pak Noeman selalu berpesan agar mereka menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok tauladan utama. "Kalau menokohkan orang lain, nanti bisa kecewa," kata Nazar.

Sumber : http://bataviase.co.id/node/91566

Rabu, 10 November 2010

Kenzo Tange

Kenzo Tange lahir di kota kecil Imabari, Jepang Selatan, pada tanggal 4 September 1913. Pada tahun 1935 dia memulai belajar dalam bidang arsitektur di “Department of Architecture at The University of Tokyo”, yang diselesaikannya pada tahun 1938. Dia mulai mengambil perhatian publik, hasil studinya mendapat penghargaan dari “Tatsuno Prize”. Kemudian mendapat pengalaman profesional bekerja sama dengan seniornya, Kunio Mayekawa, yang juga lulusan Universitas Tokyo. Tange kembali menuntut ilmu di Universitas Tokyo untuk mendapatkan gelar Masternya, dan mengajar sebagai dosen arsitektur di universitas tersebut. Setelah Perang Dunia II, Tange memenangkan sayembara untuk mengabadikan momen pengeboman kota Hiroshima, “a piece center in Hiroshima”. Setelah memenangkan sayembara itu, Tange membuka kantor konsultan pribadinya. Pada tahun yang sama yaitu 1949, Tange menyelesaikan gelar profesornya di Universitas Tokyo. Kenzo Tange pernah bekerja pada Le Corbusier pada tahun 1935-an, masa di mana arsitektur International Style, kubisme, fungsionalisme, sedang berkembang dan nantinya berpengaruh terhadap rancangan-rancangan karya Tange. Tange dapat disejajarkan dengan para tokoh arsitektur modern awal generasi di atasnya seperti, Le Corbusier, Gropius, Wright, van der Rohe, dan lainnya pada masa abad XIX. Tange seangkatan dengan para arsitek Amerika yaitu P. Johnson, K. Roche, P. Rudolph, I. M. Pei, dan lainnya pada masa abad XX. Pada karya-karya awal yang dihasilkan Kenzo Tange yaitu menggabungkan modernisme dengan arsitektur tradisional Jepang. Di akhir tahun 1960-an, beliau menghilangkan regionalisme dan berubah ke International Style. Melalui ide-idenya yang universal tanpa menghilangkan kandungan arsitektur tradisional Jepang. Berikut penghargaaan-penghargaan yang diterima Kenzo Tange dalam perjalanan kariernya :

  • Annual Prize of Architectural Institute of Japan 1954, 1955, 1958
  • Pan Pacific Citation from A. I. A. Hawaian Chapter, U. S. A. 1958Prix International d’Art et d’Architecture de I’Architecture d’Aujoud’hui, France 1959
  • Prizes from Building Society, Japan, 1960, 1965, 1966, 1969, 1970, 1979, 1984
  • Diploma of Merit from International Olimpic Committee,1964
  • Royal Gold Medal from Royal Institute of British Architects, England 1965
  • Asahi Prize from Azahi Newspaper, Japan 1965
  • Special Prize of Architectural Institute of Japan 1965, 1970.
  • President’s Medal from the Architectural League of New York, U. S. A. 1965
  • The Gold Medal 1966 from American Institute of Architects, U. S. A. 1966
  • Medaille d’Or from Societe d’Encouragement au Progres, France 1967
  • Order of the Yugoslav Star on Necklace, Yugoslavia 1968
  • The Medal of Honour from Danish Royal Academy of Fine Arts, Denmark 1968
  • Order of San Gregorio Magno from the Apostolic Nunziature, Vatican City 1970
  • Thomas Jefferson Memorial Foundation Medal in Architecture, U. S. A. 1970
  • Medaglia d’Oro del Presidente della Replubica Italiana, Italy 1970
  • Prime Minister’s Award from Nominated Competitions for “Japan in 21 Century”, Japan 1971
  • Grande Medaille d’Or d’Architecture de I’Academie d’Architecture, France 1973
  • SARP Medal from Stowarzyszenie Architektow Polskich, Poland 1973
  • Order Pour Le Merite fur Wissenschaften und Kunste, West Germany 1976
  • Commandeur dans I’Ordre National du Merite, France 1977
  • Mexian Order of the Aguila Azteca Grade, “Encomienda”, Mexico 1978
  • Commendatore nell’Ordine “Al Merito della Republica Italiana”, Italy 1979
  • Person of Merit in Japanese Cultural Achievment, Japan 1979
  • Order of Culture, Japan 1980
  • Commandeur dans I’Ordre des Arts et Lettres, France 1984
  • Grande Ufficiale nell’Ordine Al Merito della Republica Italiana, Italy 1984
  • Grand Prize, Architectural Institute of Japan 1986
  • The Pritzker Architecture Prize 1987

Konsep Rancangan Kenzo Tange Pada awal kariernya, Tange memiliki konsep tersendiri dalam menghasilkan suatu karya yaitu suatu penggabungan gaya modern dengan bentukan asitektur tradisional Jepang. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pada akhir ’60-an beliau menolak konsep regionalisme dan berubah ke International style. Regionalisme dalam hal ini merupakan gaya arsitektur yang berkonsep pada kebudayaan setempat. Konsep modern tersebut membebaskan rancangannya dari pengaruh tradisionalisme yang bersifat statis, dan digantikan oleh konsep modernisme yang dinamis. Walaupun konsep gayanya telah lama berubah, beliau konsisten menghasilkan desain berdasar pada aturan-aturan yang jelas. Kenzo Tange telah mengekspresikan karya-karyanya dalam konsep arsitektur modern. Pemikiran dasar dari teori arsitektur modern diekspresikan ke dalam konsep-konsep yang berfungsi dan berstruktur. Menurut Tange terdapat persamaan karakter antara arsitrektur modern dan arsitektur tradisional Jepang, kesederhanaan, standarisasi, keterbukaan, keruangan, dan kehampaan. Standarisasi dan kesederhanaan menjadi sesuatu yang formal, keterbukaan dan kehampaan menjadi sesuatu kekurangan, misal suatu kekurangan menghadapi iklim dan cuaca. Manusia mengharapkan sesuatu yang tahan lama dan abadi. Dalam semua proyeknya, Tange berpendapat bahwa arsitektur harus mempunyai sesuatu yang menyentuh perasaan manusia, tetapi mengenai bentuk dasar, keruangan, dan tampilan harus melalui proses pemikiran. Karya yang dihasilkan menggabungkan antara aspek manusiawi dan teknologi. Tradisi menjadi sebuah penyaring, dan berpartisipasi dalam proses kreasi, tetapi tradisi itu tidak bisa berkreasi dengan sendirinya. Filosofinya yang paling mendasari karyanya yaitu “Arsitektur merupakan refleksi dari ekspresi struktur sosial”.


Rabu, 06 Oktober 2010

Zaha Hadid

Zaha Hadid lahir di Bagdad Irak, 31 Oktober 1950. Arsitek yang secara konsisten menyatukan wilayah arsitektur dan desain perkotaan. Karyanya penuh dengan eksperimen ruang yang berkualitas, memperluas dan mengintensifkan lanskap yang ada untuk memenuhi visi estetika yang mencakup semua bidang desain, mulai dari skala kota sampai ke produk, interior dan furniture.

Semula, Zaha masuk jurusan Matematika di American University Beirut sebelum pindah di Architectural Association London 1972 dan memperoleh Diploma Prize pada 1977. Menjadi mitra kerja Dinas Metropolitan Arsitektur, dan belajar di AA dengan kolaborator OMA Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis. Kemudian memimpin sendiri studio AA sampai 1987. Sejak itu dia menjabat sebagai Pemimpin Kenzo Tange di Graduate School of Design, Harvard University, dan University of Chicago School of Architecture. Professor tamu pada Hochschule für Bildende Künste di Hamburg, The Knolton Architecture School, Ohio dan Studio Master di Columbia University, New York. Ia menjadi Visiting Professor Eero Saarinen dalam Desain Arsitektur untuk Semester Musim Semi 2002 di Yale University, New Haven, Connecticut. Beliau juga menjadi anggota kehormatan American Academy of Arts and Letters dan Fellow of the American Institute of Architecture. Saat ini sebagai Profesor di Universitas Seni Terapan di Wina.

Zaha termasuk arsitek aliran deconstrucsivism-neo constructivist. Menurutnya bangunan harus dirancang dari pemikiran-pemikiran berikut :
1.
Bangunan adalah projek percobaan yang tidak pernah selesai, sehingga selalu menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan dimungkinkan bentuk masa datang (future). Karenanya dia juga disebut arsitek Futurist
2.
Berarsitektur adalah bereksperimen tentang seni arsitektur yang bebas dengan ide-ide yang baru sama sekali. Karenanya ia juga disebut menganut aliran Russian Suprematism, suatu aliran yang mengawali dekonstruksi pada umumnya: ”Melawan masa lampau”, seperti seniman yang melawan sesuatu yang natural.
3.
Bangunan harus dapat menampilkan ide yang masih berupa fantasi bentuk abstrak dari pengarangnya ke dalam suatu bentuk nyata bangunan itu sendiri. Dari contoh ini tampak bentuk abstrak dari aliran yang masif. Dilihat dari sisi ini Zaha juga termasuk seorang Constructivist.
4.
Bangunan harus dapat memancing emosi dan imajinasi dari tiap-tiap orang yang melihatnya. Untuk memancing emosi dan imajinasi, pada bangunan ini, Zaha menggunakan eleen-elemen garis horisontal dominan yang dinamis dan ringan yang dikenal flying beam. Karenanya ia juga dijuluki sebagai arsitek dekonstruksi aliran anti-gravitational space. Banyaknya balok yang melayang menciptakan bangunan seolah-olah tidak ada yang menopang semakin menambah cirri khas dekonstruksi bangunannya.
5.
Bangunan adalah pemersatu ruang dalam dan ruang luar . Antara bangunan dan lingkungan sekitar, merupakan kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.
6.
Bangunan adalah tempat untuk melaksanakan aktifitas yang berbeda-beda. Karena itu, maka bangunan juga terdiri dari elemen-elemen atau bentuk yang berbeda dan disatukan oleh sistem sirkulasi dengan penonjolan sistem konstruksi.
7.
Pembedaan aktifitas dilakukan dengan pembedaan elemen-elemen bangunannya yang untuk menghindari kesan monoton.

Karya-karya Zaha hadid : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5062309

Sabtu, 11 September 2010

Arsitek Pertama di Indonesia



Dalam sejarah kita, arsitek pertama Indonesia adalah Aboekasan Atmodirono (1860-1920). Ia lulus Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan (Middelbare Technische School) yang berhasil mencapai jenjang opzichter. Setelah naik pangkat, ia dikenal sebagai de eerste inlandse architect (arsitek pribumi pertama) dan bekerja di Departement van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum). Ia hadir di Kongres I Boedi Oetomo dan masuk dalam daftar calon ketua. Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat (volksraad) di tahun 1918, ia ditunjuk duduk di parlemen sebagai tokoh Boedi Oetomo yang juga mewakili Perhimpunan Pamong Praja Pribumi “Mangoenhardjo”.

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).

Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.

Di tahun 1920 Technische Hoogeschool di Bandung mulai beroperasi. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).

Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama.

Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 195

Sabtu, 28 Agustus 2010

F. Silaban



Arsitek yang lengkapnya bernama Friedrich Silaban Ompu Ni Maya lahir pada tanggal 16 Desember 1912 di Bondolok Tapanuli, Sumatera Utara. F. Silaban merupakan putera kelima dari pasangan yang bernama Boru Simamora dan Sintua Djonas Silaban. Pada tanggal 18 Oktober 1946 F. Silaban menikah dengan Letty Kievits dan dikaruniai 10 (sepuluh) orang anak, dua perempuan dan delapan laki-laki. Salah seorang anaknya mengikuti jejak sang ayah sebagai Arsitek.
Beliau adalah Ir. Panogu Silaban lulusan Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.Setelah menyelesaikan pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, Tapanuli tahun 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S.) di Jakarta pada tahun 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada tahun 1950, Beliau kemudian bekerja menjadi pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie di Pontianak Kalimantan Barat (1937) dan sebagai Kepala DPU Kotapraja Bogor hingga 1965.

Dari sejumlah karya tercatat beberapa hasil rancangannya antara lain Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Bogor, Kantor Perikanan Darat Sempur, Kota Bogor, Rumah Dinas Walikota Bogor (1935), Bank Indonesia, Jalan Thamrin Jakarta, Bank Indonesia, BLLD, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Bank Negara 1946, Masjid Istiqlal Jakarta, Flat BLLD, Bank Indonesia Jalan Budi Kemuliaan Jakarta, Gedung Bank Negara Indonesia 46 di Surabaya, Gedung Bank Indonesia di Surabaya, Markas Besar Angkatan Udara (MBAU) Pancoran Jakarta, Gedung Pola Jakarta Hotel Banteng, yang kemudian menjadi Hotel Borobudur. Selain itu beberapa karya lainnya adalah rumah tinggal dan monumen–monumen, antara lain Monumen Nasional Pembebasan Irian Barat Lapangan Banteng Jakarta, Tugu Selamat Datang Bunderan HI Jakarta, Taman Makam Pahlawan Kalibata (peresmian 10 Nopember 1954) dan Makam Raden Saleh Bondongan Bogor.

Karya-karyanya itulah yang membuatnya mendapat berbagai penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Penghargaan dimaksud antara lain berupa tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang disematkan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1962. Penghargaan Honorary Citizen (warga negara kehormatan) dari New Orleans, Amerika Serikat. Di samping itu Qubah Mesjid Istiqlal telah diakui Universitas Darmstadt, Jerman Barat sebagai hak ciptanya, sehingga disebut sebagai "Silaban Dom", atau qubah Silaban. Bangunan yang masih berdiri kokoh karya dari arsitek Silaban di Kota Bogor antara lain Rumah Dinas Walikota Bogor, dan di Jakarta yaitu Masjid Istiqlal.

Ide dan karya beliau sebagian muncul antara tahun 1950–1960. Pada saat itu F. Silaban sangat dekat dengan sosok Presiden Soekarno, bahkan sering mendukung ide–ide yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno termasuk ide-ide tentang arsitektur dan produknya. Hal ini dapat dilihat pada saat Presiden Soekarno mencetuskan ide adanya Nation Building yang merupakan paham tentang bangunan yang mampu mencerminkan dan membangkitkan kebanggan nasional, sehingga bangunan–bangunan yang tercetus berskala raksasa, megah dah heroik.
Sumber: dari berbagai sumber

Ernst Neufert


Ernst Neufert was born in Freyburg an der Unstrut. At the age of 17, after five years of working as a bricklayer, Neufert entered the school of construction (Baugewerbeschule) in Weimar. His teacher recommended him to Walter Gropius in 1919 as one of his first students of the Bauhaus. He finished his studies in 1920, and together with the expressionist architect Paul Linder (1897-1968) embarked on a year-long study tour of Spain, where he sketched medieval churches. In Barcelona he met Antonio Gaudi, whose architecture made a deep impression on the young student. Neufert later became one of the first advocates of Gaudi in Germany. After 1921 he returned to the Bauhaus and became chief architect under Gropius in one of the most prominent architecture studios of the Weimar Republic.

In 1923 he met the painter Alice Spies-Neufert, a student of the Bauhaus masters Georg Muche and Paul Klee, and married her in 1924. They had four children (Peter, Christa, Ingrid and Ilas).

In 1925 Neufert worked in close collaboration with Gropius on the realization of the new Bauhaus buildings in Dessau and the completion of the masters' houses for Muche, Klee, andWassily Kandinsky. In 1926 he returned to Weimar and became a teacher under Otto Bartning at the Bauhochschule (Building High School), known as "the other Bauhaus". From 1928 to 1930 he realized various projects, such as the Mensa am Philosophenweg and the Abbeanum in Jena . In 1929 he built his private home in Gelmeroda, a village near Weimar (today the home of the Neufert Foundation and Neufert Box, a small museum with changing exhibitions). After closure of the Bauhochschule by the Nazis, he moved to Berlin and worked in a private school for art and architecture founded by Johannes Itten, which was forced to close as well in 1934.

Very early Neufert recognized the possibilities for rationalization of building processes, but also the need for normative rules.

In 1934 he became the resident architect of Vereinigte Lausitzer Glaswerke (United Lusatia Glassworks). He designed the private home of its director Dr. Kindt (with colour glass byCharles Crodel) and various housing, office, and factory buildings in Weißwasser, Tschernitz and Kamenz. At the same time he worked on his Architects' Data, which was published in March 1936 and which remains an essential reference work, having been translated into 18 languages.

In 1936 traveled to New York and Taliesin to visit Frank Lloyd Wright and gauge his prospects of finding work in the United States. But in New York he was notified of the enormous success of the first edition of his book and returned to Berlin to prepare the second edition. New industrial commissions for his studio led to his decision to remain in Germany. In 1939 he was appointed by Albert Speer to work on the standardization of German industrial architecture.

After World War II, Neufert was appointed professor at the Darmstadt University of Technology. He opened his own office, Neufert und Neufert, with his son Peter in 1953 and realized numerous projects, including many industrial buildings. He died in 1986 in his home in Bugneaux-sur-Rolle in Switzerland.

Minggu, 28 Maret 2010

Wijanarka, Peduli Lingkungan Lewat Arsitektur



C Anto Saptowalyono

Peduli lingkungan bisa diwujudkan melalui berbagai cara. Wijanarka, dosen arsitektur Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menunjukkannya lewat karya desain. Hasilnya berupa rancangan rumah maupun tata kota.
Menimbang beberapa tahun terakhir Kalimantan Tengah mengalami bencana kabut asap, tim Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Palangkaraya yang dipimpin Wijanarka mendesain jendela multifungsi. Jendela itu mampu meminimalkan masuknya asap ke dalam rumah.
Jendela multifungsi terdiri atas ventilasi bawah, lubang jendela, dan ventilasi atas. Di sisi dalam, tiga bagian itu dipasangi panel kaca. Panel kaca ini dapat dibuka atau ditutup sesuai tingkat kepekatan asap di luar rumah, tanpa mengganggu pencahayaan dalam ruangan.
Ventilasi bawah yang melekat pada jendela multifungsi juga melancarkan sirkulasi udara. Ventilasi bawah ini perlu sebab udara segar yang suhunya lebih rendah selalu berada dekat permukaan tanah karena bobotnya lebih berat.
Sebaliknya, udara yang sudah mengalami pemanasan berada di atas karena bobotnya lebih ringan. Dengan memasang jendela multifungsi, udara segar dari luar rumah dapat masuk lewat ventilasi bawah dan keluar lewat ventilasi atas.
Lancarnya sirkulasi udara tersebut menjamin kesejukan ruangan. Rumah yang memasang jendela multifungsi pun menjadi ramah lingkungan sekaligus hemat energi. Apalagi, belakangan ini dia melihat kecenderungan bangunan baru seolah ”memaksa” penggunaan air conditioning (AC). Ini tercermin dari minimnya lubang ventilasi untuk mengatur kesejukan ruangan.
Seiring langkanya kayu ulin, sekarang di Kalteng juga mulai banyak rumah beratap metal. Kondisi ini mengakibatkan suhu ruangan tidak sesejuk rumah beratap sirap.
”Saya tidak mematenkan jendela multifungsi ini. Semua bisa mengadopsi desain ini,” kata Wijanarka.
Bahkan, dia juga dengan senang hati memajang jendela multifungsi pada pameran di atrium Mal Palangkaraya agar dikenal khalayak.
Berwawasan lingkungan
Jendela multifungsi hanyalah satu dari sekian karya Wijanarka. Lelaki kelahiran Semarang tahun 1971 ini juga dimintai masukannya oleh beberapa pemerintah kabupaten/kota untuk membuatkan peta tata ruang kota. Beberapa daerah yang meminta masukannya adalah Kabupaten Seruyan, Kabupaten Gunung Mas, dan Kabupaten Lamandau.
Wijanarka juga diminta membantu merevitalisasi kota tua Pahandut, cikal bakal Kota Palangkarya. Dia juga yang membuatkan rancangan teknik kawasan Jalan G Obos dan Menteng Baru di Kota Palangkaraya.
Dalam mendesain, Wijanarka mengedepankan rancangan berwawasan lingkungan sesuai karakteristik setempat. Untuk Kuala Pembuang, ibu kota Kabupaten Seruyan, misalnya, dia mengenalkan konsep kota kanal.
Konsep ini dia tawarkan menimbang posisi pusat kota ibu kota kabupaten pemekaran tersebut yang hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari Laut Jawa. Saat pasang, air laut naik lewat Sungai Seruyan dan menggenangi kawasan rawa di pusat kota Kuala Pembuang.
”Solusi yang kami tawarkan, perlu dibangun kanal-kanal sehingga luapan air pasang tidak meluber ke mana-mana, melainkan fokus tersalur di kanal tersebut. Air itu kemudian keluar lagi ketika surut,” ungkapnya.
Lain lagi konsep tata ruang untuk Kuala Kurun, ibu kota Kabupaten Gunung Mas, dan Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau. Wijanarka mengusulkan agar pembangunan permukiman di kedua kawasan itu jangan sampai merusak sungai dan kelestarian hutan.
Untuk dua ibu kota kabupaten yang berada di kawasan pedalaman dan jauh dari pesisir itu dia mengusulkan konsep yang dinamai Jungleriverpolitan, yakni kawasan yang memadukan secara serasi hutan, sungai, dan permukiman.
Sesuai kompetensinya sebagai arsitek, ia telah berusaha membuatkan rancangan yang berwawasan lingkungan. Namun, Wijanarka menyadari, dipakai atau tidaknya rancangan tersebut tergantung banyak pihak, terutama komitmen dari pemerintah daerah setempat.
Salah satu upaya yang dia lakukan agar rancangan berwawasan lingkungan bisa terwujud adalah dengan menulis artikel terkait hal tersebut di media cetak. Selain menulis di koran, karangan ilmiah dan beberapa tulisan Wijanarka juga bisa dibaca dalam jurnal ilmiah lokal dan nasional.
Menulis buku
Di samping itu, Wijanarka juga menulis buku. Ia telah menghasilkan dua buku, yakni Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya dan Semarang Tempo Dulu, Teori Desain Kawasan Bersejarah. Kedua buku karyanya itu diterbitkan oleh penerbit Ombak, Yogyakarta.
Ketertarikan Wijanarka menulis buku yang pertama terinspirasi oleh presiden pertama RI Soekarno yang juga seorang perencana kota. Soekarno-lah yang menciptakan desain Kota Palangkaraya.
Pengimplementasian ide Soekarno di Palangkaraya sebenarnya dimungkinkan karena pada saat itu Palangkaraya memang baru dibangun dengan membuka hutan. Ini berbeda kondisinya jika ide tersebut diterapkan pada rencana induk pendahuluan Kota Jakarta, yang pada 1956-1957 struktur kotanya sudah terbentuk.
Sayang, rencana itu tidak terwujud karena beberapa alasan politis dan sulitnya penyediaan bahan material waktu itu.
”Saya membuat buku ini (Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya), harapannya, dengan mengingat kondisi Jakarta seperti sekarang akan muncul wacana pemindahan ibu kota. Orang akan teringat bahwa di masa lalu Palangkaraya pernah direncanakan sebagai ibu kota Indonesia,” katanya.
Bagaimanapun, lanjut Wijanarka, setiap perkembangan kota itu seharusnya berwawasan lingkungan. Karena itulah ia menekankan pentingnya konsistensi tata ruang.
Para pejabat kota boleh datang dan pergi, silih berganti, tetapi tata ruang kota seperti kawasan hijau yang sejak awal sudah ditetapkan jangan semakin menyempit, bahkan hilang. Kalau itu terjadi, tak hanya lingkungan yang hancur, tetapi kota itu pun akan kehilangan kemanusiawiannya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More