Desain Rumah Bambu
Bambu adalah bahan bangunan yang dapat diperbaharui dan banyak tersedia di Indonesia. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11% nya adalah spesies asli Indonesia. di Indonesia sudah lama memanfaatkan bambu untuk bangunan rumah, perabotan, alat pertanian, kerajinan, alat musik, dan makanan. Namun, bambu belum menjadi prioritas pengembangan dan masih dilihat sebagai "bahan milik kaum miskin yang cepat rusak"..
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
dunia ini bagai selembar kertas putih, memerlukan warna-warni yang indah.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Kamis, 14 Juli 2011
Herman Thomas Karsten
Senin, 21 Maret 2011
Mario Botta
kerangka dasar yang sama oleh sistem pendidikan (ETH Zurich dan Laussane) juga oleh Peraturan Bangunan (Building Codes); meskipun dari satu Kantoon ke yang lainnya ada beberapa perbedaan.
yang kuat sebagaimana para arsitek modern sejak 1920-an; khususnya Le Corbusier. Sekalipun demikian Botta tidaklah cenderung pada Eklektisme pada seni bangunan klasik seperti oleh Andrea Paladio pada Abad ke 16.
diantara masyarakatnya. Sementara, Botta justru sebaliknya, mengundang suatu "interplay" antara luar dan dalam yang mampu menghasilkan suatu jalinan kerjasama melalui "redefinisi bentuk" yang sudah dikenal. Botta
tidak segan-segan memberi tempat pada keragaman tuntutan nilai dari perorangan dan eksperimen bentuk dengan tidak menafikan kepentingan kolektif untuk keseragaman dan rasionalitas.
Botta tidak putus asa, namun terus mencari pendefinisian kembali unsur-unsur tradisional rancang bangunan. Idea Casa Rotunda merupakan gubahan yang sama sekali lain dan menggugah citra rasa historik . Bentuk cylindric yang dipilihnya untuk Casa Rotonda mengingatkan orang pada Menara Hunian Abad Pertengahan. Casa ini bukan hanya punya konteks historik pada daerah Tesin, tetapi sangat sensitif mengakomodasi iklimnya. Teriknya matahari ditanggulangi oleh dinding yang tegar dan masif, sementara pemandangan ke lembah Tesin dibuka dengan jendela dan teras yang optimum dengan komposisi yang dramatik.
Kekuatan rancang bangunan Botta cenderung pada permainan bidang dan kekuatan volume bentuk dan ruang yang pernah dieksploitasi oleh Le Corbusier, Louis I Khan dan Luigi Snozzi. Hal ini tidak mengherankan mengingat mereka pernah bertemu dan magang singkat. Pada le Corbusier, Botta pernah magang untuk membangun sebuah Rumah Sakit di Venezia . Pengaruh Corbusier nampak kuat pada penggunaan volume kantilever hanya nampak pada awal-awal kariernya; khususnya pada Rumah Tinggal di Stabio. Sementara pengaruh Kahn mempengaruhi banyak karyanya. Echo dari Gedung Parlemen Kahn di Dacca, Bangladesh terlihat pula pada Rumah Tinggal di Cadenazzo ; bukaan lingkaran besar yang kuat menjadi kharakter tersendiri yang memperkuat komposisi bentuk volumenya. Snozzi bersama dengan Ivano Gianola, Livio Vacchini, Bruno Reichlin, Fabio Reinhart dan Michael Adler dikenal sebagai tokoh-tokoh Tecinese School (l'Ecole tessinoise). Dalam geografi seni bangunan Eropa, Aliran ini kuat memperagakan rancangan kontekstual dengan citra rasa kesejarahan setempat. Morphologi kota dan tipologi bangunan menjadi bagian penting dari theori urbanism Aliran Tesini ini.
Di Eropa pada khususnya dan Dunia pada umumnya, Mario Botta adalah arsitek ujung tombak dari Swiss yang membawa citra budaya bangunan dengan estetika klasik yang enerjik. Pengalaman estetik yang ditawarkan oleh karya-karya Mario Botta kaya dengan informasi dan semacam "hubungan" ke karya-karya seni bangunan klasik sepertiAlberti, Serlio dan Paladio. Sekalipun demikian, karya-karya Botta tidak terjebak pada repetisi klise. Sebaliknya, kekuatan rancang bangunan Botta berbicara mengenai re-definisi sejarah lebih melalui variasi bentuk geometri yang kuat dengan pengulangan pola tebal pada bidang-bidangnya. Semua merujuk
pada keutuhan komposisi dialokl antara keras-lembut, padat-tranparan dst.
Kamis, 17 Maret 2011
Han Awal
Malang, 16 September 1930
Istri: Anastasia Maria Theresia Anak:
- Paulus Rachmat Trisna Awal
- Gregorius Antar Awal
- Maria Daryanti Awal
- Maria Widyati Awal
Pendidikan:
- Techniche Hoogeschool Delft, Belanda, 1950-1957 - Techniche Universitat, Faculatfur Architectur, Berlin Barat, 1957-1960 Karier:
- Direktur PT Han Awal & Partners Architect, 1971
- Pembantu Rektor/Dosen Akademi Pertamanan DKI Jakarta, 1969-1971
- Proyek Conefo/MPR-DPR sebagai Asisten I Kepala Proyek, 1964-1972 - Dosen Tak Tetap FTUI Jurusan Arsitektur, 1965-2000
- Dosen Pembina FT Unika Soegiyapranata, Semarang, 1990-2003
- Dosen Pembina FT Universitas Merdeka, Malang, 1997-2004
- Dosen Tak Tetap Program Pascasarjana FT UI, 2003
Organisasi Profesi:
- Ikut mendirikan Pusat Dokumentasi Arsitektur
- Anggota Dewan Kehormatan IAI DKI Jakarta
Penghargaan:
- Penghargaan AIA untuk Kompleks Universitas katolik Atma Jaya, Jakarta, 1984
- Penghargaan AIA untuk Konservasi Gedung Arsip Nasional, 1999
- Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage, bersama Budi Lim dan Cor Passchier, 2001
- Prof Teeuw Award, bersama Soedarmadji JH Damais dan Wastu Pragantha Zhong, 2007 Alamat:
Biro Arsitek Han Awal & Partners, di Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Minggu, 28 November 2010
Achmad Noeman

Siapa tak kenal masjid Salman ITB? Masjid tidak berkubah dan tidak bertiang di dalamnya itu adalah masjid kampus pertama yang dibangun di Indonesia. Bisa dikatakan, para aktivis dakwah kampus di Indonesia tentu mengenal sosok ini. Ia berkiprah dalam dunia dakwah - utamanya - melalui bidang arsitektur. Orang mudah mengenal karya unik Ir. Ahmad Noeman dalam arsitektur masjid.
Achmad Noeman lahir di Garut, 10 Oktober 1926. Kepada ISLAMIA-REPU-BLIKA. ia menuturkan, minatnya terhadap arsitektur terilhami oleh ayahnya yang selalu menggambar sendiri masjid dan madrasah yang akan dibangun. Ayahnya, H. Muhammad Djamhari adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Garut. Setiap kali Muhammadiyah akan membangun masjid, madrasah dan kantor, ayahnya selalu meng-gambarnya sendiri. Noeman, waktu itu, selalu ikut mencermati nya. "Usia saya waktu itu sekitar delapan tahunan," demikian Noeman menuturkan.
Selepas belajar di HIS (Hollandsch Inlandsche Schooi/setingkat SD) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs/setingkat SMP) Garut, lalu SMA Muhammadiyah, Yogyakarta, Noeman menyalurkan minatnya dengan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung/ITB). Tapi, saat itu, 1948, di FTUI Bandung belum dibuka jurusan arsitektur. Noeman kemudian masuk jurusan Teknik Sipil/Bangunan. Saat TNI meminta mahasiswa FTUI bergabung di militer, pada 1949, sehubungan dengan keperluan TNI terhadap tentara yang bisa berbahasa Belanda, Noeman pun kemudian bergabung di CPM (Corps Polisi Militer). Akan tetapi itu tidak lama. Tepat pada 1952, saat FTUI membuka jurusan arsitektur, segera saja Noeman mengundurkan diri dari kemili-teran dan masuk pada jurusan arsitektur.
Semasa kuliah, dari sejak 1948, bersama kakaknya Ahmad Sadali- seorang kaligrafer, mantan Dekan Fakultas Teknik ITB, wafat 1987- yang juga kuliah di tempat yang sama, Noeman sering mendiskusikan pentingnya ada masjid di lingkungan kampus. Noeman dan kakaknya waktu itu betul-betul merasa kesulitan menjalankan shalat wajib, khususnya shalat Jumat di lingkungan kampus. "Maklum, waktu itu
di ITB masih banyak orang Belanda. Rektornya saja masih orang Belanda. Kalaupun ada orang Indonesia yang muslim, pada umumnya mereka sekuler," demikian Noeman menuturkan. Selepas kuliah, 1958, rencana itu kemudian dicoba diwujudkan dengan membuat sebuah panitia. Prof. TM. Soelaiman menjadi ketuanya. Walau belum jelas dimana masjid akan dibangun - karena belum dapat izin dan belum jelas juga sumber dananya - Noeman kemudian ditunjuk sebagai arsiteknya. Setelah selesai, panitia mengajukan ke pihak rektorat ITB. Usulan itu ditolak.
Salah satu murid Noeman, Ajat Sudrajat mengajak Panitia menemui Presiden Soekarno lewat pamannya yang menjadi komandan di Cakrabirawa, Kolonel Sobur. Empat anggota panitia - Prof. TM. Soelaiman, Ahmad Sadali, Ahmad Noeman, dan Ajat Sudrajat - ke Jakarta menemui Presiden Soekarno di Istana Negara.
Setelah berdiskusi alot, Soekarno kemudian menyetujui rencana pembangunan masjid tersebut. Soekarno juga yang memberi nama "Salman" karena terilhami oleh seorang arsitek perang yang ulung di zaman Nabi Muhammad saw. Bahkan, Soekarno yang juga alumnus ITB, bersedia menjadi pelindung masjid Salman. Sebagai bukti dukungannya, Presiden membubuhkan tanda tangannya pada gambar masjid yang dibuat Noeman. "Setelah ditandatangani Seokarno, maka segera saja Rektor menyetujuinya. Demikian juga dengan Walikota Bandung. Dari sana dimulailah pembangunan Masjid Salman," tutur Noeman.
Dalam pertemuan itu, Presiden Soekarno bertanya, mengapa Masjid Salman tidak berkubah; Waktu itu Noeman menjawab dengan logika Soekarno, bahwa dalam Islam yang penting adalah "api" nya. Asalkan itu masjid maka sah-sah saja walaupun tidak berkubah. Noeman juga menuturkan bahwa salah satu prinsip yang dipegangnya adalah ijtihad, yakni melakukan terobosan berdasarkan ilmu, tanpa imitasi dan meniru-niru. " Kalaupun salah, ijtihad itu kan tetap dapat pahala satu," tutur Noeman menjelaskan. Ijtihad Noeman itu disetujui juga oleh Soekarno dan seluruh panitia, sehingga jadilah Masjid Salman, satu masjid yang
berdiri megah tanpa kubah di atasnya.
Prinsip lain yang dipegang oleh salah seorang pendiri IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia) ini adalah shaf (barisan) shalat itu harus bersambung, tidak boleh terpotong. "Maka dari itu, setiap bangunan masjid yang saya rancang tidak ada tiang di dalamnya yang dapat memotong shaf. Contohnya di Masjid Salman. Atau yang terbaru di Islamic Center Jakarta, Kramat Tunggak. Walaupun lebarnya sampai 50 m, saya meran-cangnya tanpa tiang di tengahnya," tutur Noeman lagi. Walaupun begitu, Noeman tidak menampik alasan pembuatan tiang di dalam masjid dibenarkan dengan alasan darurat. Hanya menurutnya, harus dicari ilmunya bagaimana agar tuntunan al-Quran dan Sunnah itu bisa diaplikasikan.
Dalam menjalani profesinya, Noeman selalu ingat firman Allah SWT yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah [2] 170 Dan apabila dikatakan kepada mereka "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Menurutnya, ayat ini harus dijadikan pegangan oleh setiap arsitek Muslim untuk tidak melakukan imitasi, melainkan harus siap aktif ber-ijtihad. Selain itu, harus selalu mendahulukan aturan dari Allah SWT, dibanding dengan tradisi yang sudah ada.
Menurut Noeman, salah satu aturan Allah SWT yang juga harus selalu diperhatikan adalah soal larangan bertindak boros. Dalam QS. Al-Isra [17] 27 disebutkan Sesungguhnya pemboros-pembo-ros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. Artinya, jangan sampai terjadi pemborosan dalam membangun masjid. Dalam hal ini ia secara terus terang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap masjid yang terlalu mewah. "Akan lebih bermanfaat jika uang untuk itu disalurkan untuk keperluan yang lain," tuturnya.
Di usianya yang ke-84 kini, Pak Noeman - begitu dia biasa disapa - masih tampak sehat. Ia secara rutin menjalankan olah raga jalan kaki. Saat ditanya, sudah berapa banyak masjid
yang diarsitekinya, ia mengaku tidak pernah menghitungnya. Ia ingat masjid-masjid yang besar saja, seperti Masjid Salman ITB, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.
Noeman bukanlah arsitek biasa. Dia sosok seorang pejuang Muslim yang tetap konsisten dalam berdakwah. Keahliannya dalam arsitektur tidak digunakan untuk mengeruk dan menumpuk-numpuk harta benda. Seorang mantan menteri yang mengenal Noeman bercerita tentang keikhlasan sang arsitek. Kisahnya, Noeman diminta merenovasi arsitek sebagian Istana Negara dengan meletakkan sejumlah ornamen kaligrafi. "Orang itu luar biasa, setelah selesai pekerjaannya, dia tidak mau dibayar sepeser pun," kata mantan pejabat itu memuji sikap Pak Noeman.
Achmad Noeman juga memegang prinsip aqidah Islam dalam membangun masjid. Ketika ada sebuah masjid yang memaksakan dibangun dengan menanam kepala kerbau, Noeman kemudian memilih mundur, meskipun masjid itu dibangun oleh petinggi negara. Ada satu masjid terkenal di Jakarta, yang Noeman harus mendatangi sejumlah pejabat dan tokoh Islam untuk meminta pendapat mereka tentang penanaman kepala kerbau. "Alhamdulillah, akhirnya rencana penanaman kepala kerbau itu dibatalkan," papar Noeman.
Menurut salah seorang putranya, Nazar Noeman, kepada anak-anaknya, Pak Noeman selalu berpesan agar mereka menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai sosok tauladan utama. "Kalau menokohkan orang lain, nanti bisa kecewa," kata Nazar.
Sumber : http://bataviase.co.id/node/91566
Rabu, 10 November 2010
Kenzo Tange

Kenzo Tange lahir di kota kecil Imabari, Jepang Selatan, pada tanggal 4 September 1913. Pada tahun 1935 dia memulai belajar dalam bidang arsitektur di “Department of Architecture at The University of Tokyo”, yang diselesaikannya pada tahun 1938. Dia mulai mengambil perhatian publik, hasil studinya mendapat penghargaan dari “Tatsuno Prize”. Kemudian mendapat pengalaman profesional bekerja sama dengan seniornya, Kunio Mayekawa, yang juga lulusan Universitas Tokyo. Tange kembali menuntut ilmu di Universitas Tokyo untuk mendapatkan gelar Masternya, dan mengajar sebagai dosen arsitektur di universitas tersebut. Setelah Perang Dunia II, Tange memenangkan sayembara untuk mengabadikan momen pengeboman kota Hiroshima, “a piece center in Hiroshima”. Setelah memenangkan sayembara itu, Tange membuka kantor konsultan pribadinya. Pada tahun yang sama yaitu 1949, Tange menyelesaikan gelar profesornya di Universitas Tokyo. Kenzo Tange pernah bekerja pada Le Corbusier pada tahun 1935-an, masa di mana arsitektur International Style, kubisme, fungsionalisme, sedang berkembang dan nantinya berpengaruh terhadap rancangan-rancangan karya Tange. Tange dapat disejajarkan dengan para tokoh arsitektur modern awal generasi di atasnya seperti, Le Corbusier, Gropius, Wright, van der Rohe, dan lainnya pada masa abad XIX. Tange seangkatan dengan para arsitek Amerika yaitu P. Johnson, K. Roche, P. Rudolph, I. M. Pei, dan lainnya pada masa abad XX. Pada karya-karya awal yang dihasilkan Kenzo Tange yaitu menggabungkan modernisme dengan arsitektur tradisional Jepang. Di akhir tahun 1960-an, beliau menghilangkan regionalisme dan berubah ke International Style. Melalui ide-idenya yang universal tanpa menghilangkan kandungan arsitektur tradisional Jepang. Berikut penghargaaan-penghargaan yang diterima Kenzo Tange dalam perjalanan kariernya :
- Annual Prize of Architectural Institute of Japan 1954, 1955, 1958
- Pan Pacific Citation from A. I. A. Hawaian Chapter, U. S. A. 1958Prix International d’Art et d’Architecture de I’Architecture d’Aujoud’hui, France 1959
- Prizes from Building Society, Japan, 1960, 1965, 1966, 1969, 1970, 1979, 1984
- Diploma of Merit from International Olimpic Committee,1964
- Royal Gold Medal from Royal Institute of British Architects, England 1965
- Asahi Prize from Azahi Newspaper, Japan 1965
- Special Prize of Architectural Institute of Japan 1965, 1970.
- President’s Medal from the Architectural League of New York, U. S. A. 1965
- The Gold Medal 1966 from American Institute of Architects, U. S. A. 1966
- Medaille d’Or from Societe d’Encouragement au Progres, France 1967
- Order of the Yugoslav Star on Necklace, Yugoslavia 1968
- The Medal of Honour from Danish Royal Academy of Fine Arts, Denmark 1968
- Order of San Gregorio Magno from the Apostolic Nunziature, Vatican City 1970
- Thomas Jefferson Memorial Foundation Medal in Architecture, U. S. A. 1970
- Medaglia d’Oro del Presidente della Replubica Italiana, Italy 1970
- Prime Minister’s Award from Nominated Competitions for “Japan in 21 Century”, Japan 1971
- Grande Medaille d’Or d’Architecture de I’Academie d’Architecture, France 1973
- SARP Medal from Stowarzyszenie Architektow Polskich, Poland 1973
- Order Pour Le Merite fur Wissenschaften und Kunste, West Germany 1976
- Commandeur dans I’Ordre National du Merite, France 1977
- Mexian Order of the Aguila Azteca Grade, “Encomienda”, Mexico 1978
- Commendatore nell’Ordine “Al Merito della Republica Italiana”, Italy 1979
- Person of Merit in Japanese Cultural Achievment, Japan 1979
- Order of Culture, Japan 1980
- Commandeur dans I’Ordre des Arts et Lettres, France 1984
- Grande Ufficiale nell’Ordine Al Merito della Republica Italiana, Italy 1984
- Grand Prize, Architectural Institute of Japan 1986
- The Pritzker Architecture Prize 1987
Konsep Rancangan Kenzo Tange Pada awal kariernya, Tange memiliki konsep tersendiri dalam menghasilkan suatu karya yaitu suatu penggabungan gaya modern dengan bentukan asitektur tradisional Jepang. Namun seiring dengan perkembangan zaman, pada akhir ’60-an beliau menolak konsep regionalisme dan berubah ke International style. Regionalisme dalam hal ini merupakan gaya arsitektur yang berkonsep pada kebudayaan setempat. Konsep modern tersebut membebaskan rancangannya dari pengaruh tradisionalisme yang bersifat statis, dan digantikan oleh konsep modernisme yang dinamis. Walaupun konsep gayanya telah lama berubah, beliau konsisten menghasilkan desain berdasar pada aturan-aturan yang jelas. Kenzo Tange telah mengekspresikan karya-karyanya dalam konsep arsitektur modern. Pemikiran dasar dari teori arsitektur modern diekspresikan ke dalam konsep-konsep yang berfungsi dan berstruktur. Menurut Tange terdapat persamaan karakter antara arsitrektur modern dan arsitektur tradisional Jepang, kesederhanaan, standarisasi, keterbukaan, keruangan, dan kehampaan. Standarisasi dan kesederhanaan menjadi sesuatu yang formal, keterbukaan dan kehampaan menjadi sesuatu kekurangan, misal suatu kekurangan menghadapi iklim dan cuaca. Manusia mengharapkan sesuatu yang tahan lama dan abadi. Dalam semua proyeknya, Tange berpendapat bahwa arsitektur harus mempunyai sesuatu yang menyentuh perasaan manusia, tetapi mengenai bentuk dasar, keruangan, dan tampilan harus melalui proses pemikiran. Karya yang dihasilkan menggabungkan antara aspek manusiawi dan teknologi. Tradisi menjadi sebuah penyaring, dan berpartisipasi dalam proses kreasi, tetapi tradisi itu tidak bisa berkreasi dengan sendirinya. Filosofinya yang paling mendasari karyanya yaitu “Arsitektur merupakan refleksi dari ekspresi struktur sosial”.
Rabu, 06 Oktober 2010
Zaha Hadid

Semula, Zaha masuk jurusan Matematika di American University Beirut sebelum pindah di Architectural Association London 1972 dan memperoleh Diploma Prize pada 1977. Menjadi mitra kerja Dinas Metropolitan Arsitektur, dan belajar di AA dengan kolaborator OMA Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis. Kemudian memimpin sendiri studio AA sampai 1987. Sejak itu dia menjabat sebagai Pemimpin Kenzo Tange di Graduate School of Design, Harvard University, dan University of Chicago School of Architecture. Professor tamu pada Hochschule für Bildende Künste di Hamburg, The Knolton Architecture School, Ohio dan Studio Master di Columbia University, New York. Ia menjadi Visiting Professor Eero Saarinen dalam Desain Arsitektur untuk Semester Musim Semi 2002 di Yale University, New Haven, Connecticut. Beliau juga menjadi anggota kehormatan American Academy of Arts and Letters dan Fellow of the American Institute of Architecture. Saat ini sebagai Profesor di Universitas Seni Terapan di Wina.
Zaha termasuk arsitek aliran deconstrucsivism-neo constructivist. Menurutnya bangunan harus dirancang dari pemikiran-pemikiran berikut :
1.
Bangunan adalah projek percobaan yang tidak pernah selesai, sehingga selalu menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan dimungkinkan bentuk masa datang (future). Karenanya dia juga disebut arsitek Futurist
2.
Berarsitektur adalah bereksperimen tentang seni arsitektur yang bebas dengan ide-ide yang baru sama sekali. Karenanya ia juga disebut menganut aliran Russian Suprematism, suatu aliran yang mengawali dekonstruksi pada umumnya: ”Melawan masa lampau”, seperti seniman yang melawan sesuatu yang natural.
3.
Bangunan harus dapat menampilkan ide yang masih berupa fantasi bentuk abstrak dari pengarangnya ke dalam suatu bentuk nyata bangunan itu sendiri. Dari contoh ini tampak bentuk abstrak dari aliran yang masif. Dilihat dari sisi ini Zaha juga termasuk seorang Constructivist.
4.
Bangunan harus dapat memancing emosi dan imajinasi dari tiap-tiap orang yang melihatnya. Untuk memancing emosi dan imajinasi, pada bangunan ini, Zaha menggunakan eleen-elemen garis horisontal dominan yang dinamis dan ringan yang dikenal flying beam. Karenanya ia juga dijuluki sebagai arsitek dekonstruksi aliran anti-gravitational space. Banyaknya balok yang melayang menciptakan bangunan seolah-olah tidak ada yang menopang semakin menambah cirri khas dekonstruksi bangunannya.
5.
Bangunan adalah pemersatu ruang dalam dan ruang luar . Antara bangunan dan lingkungan sekitar, merupakan kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.
6.
Bangunan adalah tempat untuk melaksanakan aktifitas yang berbeda-beda. Karena itu, maka bangunan juga terdiri dari elemen-elemen atau bentuk yang berbeda dan disatukan oleh sistem sirkulasi dengan penonjolan sistem konstruksi.
7.
Pembedaan aktifitas dilakukan dengan pembedaan elemen-elemen bangunannya yang untuk menghindari kesan monoton.
Karya-karya Zaha hadid : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5062309
Sabtu, 11 September 2010
Arsitek Pertama di Indonesia

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).
Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.
Di tahun 1920 Technische Hoogeschool di Bandung mulai beroperasi. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).
Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama.
Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 195
Sabtu, 28 Agustus 2010
F. Silaban


Ernst Neufert

Ernst Neufert was born in Freyburg an der Unstrut. At the age of 17, after five years of working as a bricklayer, Neufert entered the school of construction (Baugewerbeschule) in Weimar. His teacher recommended him to Walter Gropius in 1919 as one of his first students of the Bauhaus. He finished his studies in 1920, and together with the expressionist architect Paul Linder (1897-1968) embarked on a year-long study tour of Spain, where he sketched medieval churches. In Barcelona he met Antonio Gaudi, whose architecture made a deep impression on the young student. Neufert later became one of the first advocates of Gaudi in Germany. After 1921 he returned to the Bauhaus and became chief architect under Gropius in one of the most prominent architecture studios of the Weimar Republic.
In 1923 he met the painter Alice Spies-Neufert, a student of the Bauhaus masters Georg Muche and Paul Klee, and married her in 1924. They had four children (Peter, Christa, Ingrid and Ilas).
In 1925 Neufert worked in close collaboration with Gropius on the realization of the new Bauhaus buildings in Dessau and the completion of the masters' houses for Muche, Klee, andWassily Kandinsky. In 1926 he returned to Weimar and became a teacher under Otto Bartning at the Bauhochschule (Building High School), known as "the other Bauhaus". From 1928 to 1930 he realized various projects, such as the Mensa am Philosophenweg and the Abbeanum in Jena . In 1929 he built his private home in Gelmeroda, a village near Weimar (today the home of the Neufert Foundation and Neufert Box, a small museum with changing exhibitions). After closure of the Bauhochschule by the Nazis, he moved to Berlin and worked in a private school for art and architecture founded by Johannes Itten, which was forced to close as well in 1934.
Very early Neufert recognized the possibilities for rationalization of building processes, but also the need for normative rules.
In 1934 he became the resident architect of Vereinigte Lausitzer Glaswerke (United Lusatia Glassworks). He designed the private home of its director Dr. Kindt (with colour glass byCharles Crodel) and various housing, office, and factory buildings in Weißwasser, Tschernitz and Kamenz. At the same time he worked on his Architects' Data, which was published in March 1936 and which remains an essential reference work, having been translated into 18 languages.
In 1936 traveled to New York and Taliesin to visit Frank Lloyd Wright and gauge his prospects of finding work in the United States. But in New York he was notified of the enormous success of the first edition of his book and returned to Berlin to prepare the second edition. New industrial commissions for his studio led to his decision to remain in Germany. In 1939 he was appointed by Albert Speer to work on the standardization of German industrial architecture.
After World War II, Neufert was appointed professor at the Darmstadt University of Technology. He opened his own office, Neufert und Neufert, with his son Peter in 1953 and realized numerous projects, including many industrial buildings. He died in 1986 in his home in Bugneaux-sur-Rolle in Switzerland.
Minggu, 28 Maret 2010
Wijanarka, Peduli Lingkungan Lewat Arsitektur
