Follow This Blog

Senin, 12 April 2010

Minimalis VS Maksimalis









Ditengah dominasi Minimalis, yang tumbuh di tahun 1990-an, ada sebuah trend yang merebak di tahun 2000-an, yaitu maksimalis. Dari namanya saja, sudah terasa adanya kontradiksi diantara keduanya. Spirit simplicity dari minimalis ” Less is more ” yang diungkapkan oleh arsitek Mies van der Rohe di tahun 1920-an, di tanggapi oleh spirit maksimalis ” More is never enough ” atau “ more is more “. Dalam dunia arsitektur, Minimalis sebenarnya bukan hal baru. Minimalis berakar pada awal abad 20 dimana dunia tengah memasuki abad Modern. Kemajuan teknologi dan kebutuhan hidup baru, menuntut arsitektur baru yang sesuai dengan keadaan jaman pada saat itu.
Sebagai contoh, sebelum material konstruksi baja dan beton ditemukan, bangunan mempuyai ketinggian yang relatif lebih rendah, tatanan ruang dalam yang bersekat- sekat dengan dinding tebal. Namun, ketika material baja dan beton ditemukan, ruangan yang lebar, luas tanpa sekat, penggunaan kaca dengan bidang yang lebar ataupun gedung pencakar langit bukan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan. Berbagai pemikiran baru dikemukakan. Salah satunya yang banyak diikuti atau dikembangkan oleh para arsitek di Eropa dan Amerika adalah pengintegrasian bentuk, fungsi dengan kemajuan teknologi dan anti dekorasi. Sebuah pemikiran yang bisa dianggap sebagai jalur tumbuhnya Minimalis. Lambat laut, pemikiran ini pun mendunia, dan dikenal sebagai International Style.
Di tahun 1970 an, orang jenuh akan gaya ini . Lahirlah Post Modern yang mengali kembali bentuk klasik. Tak bertahan lama, di tahun 1980 an kejenuhan timbul terhadap Post Modern. Lahirlah Dekonstruksi, yang menawarkan kompleksitas dalam mengolah bentuk geometris murni. Lagi- lagi kejenuhan datang, di tahun 1990 an orang kembali mencari kembali suatu yang esensial. Spirit Minimalis pun kembali digali. Jenuh dengan Minimalis yang ‘dingin’,di tahun 2000 an muncul Maksimalis.
Arsitektur dan Interior Minimalis
Spirit simplicity dalam Arsitektur Minimalis diekspresikan dalam bentuk geometris, garis elementer, penggunaan beton ekspos, anti dekorasi dan penggunaan warna putih yang dominan. Dalam tatanan interior, Minimalis ditandai dengan permainan ruang yang mengalir , dan pengunaan warna paduan putih dengan hitam, merah atau dengan material bersifat natural atau high-tech.
Penataan cahaya dan furniture dirancang menjadi satu kesatuan dengan bangunan. Sebagai contoh armatur lampu didisain sedemikian rupa sehingga idak terlihat. Yang diperlukan adalah efek cahaya dari lampu yang tersimpan ‘tersembunyi’. Sedangkan furniture berbau minimalis mempunyai tampilan yang mengkombinasikan antara fungsi, kenyamanan, keindahan, kekuatan serta memberi kesan ringan .
Arsitektur dan Interior MaksimalisBerlawanan dengan Minimalis, Maksimalis ‘bergerak’ lebih bebas. Kehadiran ornamen ataupun finishing yang eskprsesif pun bukan tindakan yang ‘salah’ dalam arsitektur maksimalis. Justru, permainan ornamen, warna, tekstur dan bentuk imajinatif menjadi ‘nyawa’ dalam arsitektur Maksimalis. Bagi furniture dengan spirit maksimalis, faktor fungsi, tidaklah ‘cukup’. Bentuk- bentuk yang penuh fantasi hadir didalam furniture maksimalis. Tak mengherankan apabila bahan, bentuk, warna yang ‘berani’ menjadi eksplorasi furniture maksimalis. Bahkan padu padan antara furniture ‘antik, classic’ dengan furniture yang ‘futuristik’ pun sah- sah saja dalam tatanan interior maksimalis.
Daftar Literatur
Halke Falkenberg, Encarna Castillo (Ed), Minimalism – Design Source, Loft Publications, Barcelona, Spain, 2004
Kliczkowski, H, Maximalism – Maximalismo, Loft Publications, Barcelona, Spain, 2003
Miller, Judith, Influential Style – From Baroque to Bauhaus and Beyond – Inspiration for Today’s Interiors, London, 2003
Widhiasih, Santi, Gaya Minimalis dalam Arsitektur, Kompas Minggu, 26 Februari 2006

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More